Cristiano Ronaldo menegaskan belum berencana mengakhiri karier internasionalnya bersama tim nasional Portugal. Penyerang berusia 41 tahun itu mengaku masih yakin mampu membantu Selecao meraih kesuksesan, sekaligus terus memburu tonggak Cristiano Ronaldo 1.000 gol sepanjang kariernya. Keyakinan itu ia sampaikan menjelang bergulirnya kampanye UEFA Nations League bersama Portugal.
Keputusan Ronaldo untuk tetap berseragam Portugal bukan hal sepele, mengingat ia sempat menyatakan bahwa Piala Dunia musim panas lalu menjadi penampilan terakhirnya di ajang tersebut. Portugal sendiri tersingkir di babak 16 besar oleh Spanyol, yang pada akhirnya keluar sebagai juara. Meski begitu, mantan pemain Manchester United dan Real Madrid itu memilih tidak mengambil langkah terburu-buru soal masa depannya di level tim nasional.

Mengejar 1.000 Gol dengan Modal Bersama Jorge Jesus
Saat ini Ronaldo telah mengoleksi 979 gol sepanjang karier profesionalnya. Rinciannya, 833 gol ia cetak bersama klub-klub yang ia bela, sementara 146 gol lainnya ia persembahkan untuk tim nasional Portugal. Dengan kata lain, ia hanya membutuhkan 21 gol lagi untuk menembus angka 1.000, sebuah pencapaian yang sangat jarang bahkan mungkin belum pernah terjadi di sepak bola modern.
Modal menuju target tersebut terlihat cukup menjanjikan karena Ronaldo kembali bekerja sama dengan Jorge Jesus. Keduanya pernah bersatu di Al-Nassr dan meraih gelar Saudi Pro League pada musim 2025-26. Pada musim itu, Ronaldo mencetak 29 gol dalam 33 penampilan di bawah asuhan Jesus, atau rata-rata satu gol setiap 99 menit bermain.
Catatan tersebut memperkuat alasan mengapa Jesus langsung memanggil Ronaldo dalam skuad pertamanya sebagai pelatih Portugal. Nama Jesus sendiri bukan sosok asing bagi Ronaldo, sehingga adaptasi di ruang ganti tim nasional diperkirakan berjalan lebih mulus dibandingkan jika ia harus beradaptasi dengan pelatih baru yang belum pernah menanganinya.
Rekam Jejak di Bawah Pelatih Lain
Sepanjang kariernya, hanya segelintir pelatih yang mampu membuat Ronaldo mencetak gol dengan rata-rata lebih tinggi di kompetisi liga. Catatan rata-rata gol per pertandingan terbaiknya terjadi di bawah Carlo Ancelotti dengan angka 1,22 dan Jose Mourinho dengan 1,13, keduanya saat masih memperkuat Real Madrid. Sementara itu, Luis Castro dan Rudi Garcia yang juga menanganinya di Al-Nassr mencatat rata-rata 1,1 gol per laga.
Piala Dunia Terakhir dan Alasan Tetap di Timnas
Ronaldo mengakui bahwa dirinya sempat mempertimbangkan untuk pensiun dari tim nasional setelah Piala Dunia. Ketika ditanya soal kemungkinan tersebut, ia menjawab dengan jujur bahwa pikiran itu memang pernah muncul. Menurutnya, ia selalu memikirkan keputusan, masa depan, dan juga keadaan saat ini karena ia terbiasa berpikir panjang sebelum mengambil langkah besar.
Sebelum memutuskan melanjutkan karier internasionalnya, Ronaldo mengaku berdiskusi dengan presiden federasi dan juga pelatih tim nasional. Dari pembicaraan itu, ia merasa masih memiliki kemampuan untuk membantu Portugal mencapai target yang mereka inginkan. Ia menilai kontribusinya tidak hanya sebatas mencetak gol, tetapi juga bisa diberikan di luar lapangan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa peran Ronaldo di skuad Portugal kini mulai bergeser. Ia tidak lagi hanya menjadi ujung tombak yang dituntut mencetak gol di setiap pertandingan, melainkan juga figur pemimpin yang menjaga atmosfer tim. Posisi itu penting bagi skuad yang sedang dalam masa transisi menuju generasi baru.
Ambisi Gelar Ketiga Nations League dan Warisan untuk Generasi Muda
Portugal saat ini berstatus juara bertahan Nations League setelah mengalahkan Spanyol melalui adu penalti pada edisi 2024-25. Ronaldo sendiri juga pernah merasakan gelar tersebut pada edisi 2018-19, sehingga gelar berikutnya akan menjadi yang ketiga baginya di kompetisi ini. Ia menegaskan bahwa target pribadi dan target tim sama-sama penting untuk dikejar.
Menariknya, Ronaldo menyebut keinginannya untuk terus membela Portugal juga dilatih oleh kesadaran akan hadirnya generasi muda. Ia memahami bahwa banyak pemain muda kini menganggapnya sebagai contoh, baik dalam hal cara berlatih maupun cara menjaga performa di usia yang tidak lagi muda. Karena itu, ia ingin terus berada di lapangan untuk memberi teladan secara langsung.
Dalam skuad 25 pemain yang dipilih Jorge Jesus, terdapat sejumlah nama muda seperti Fabio Silva, Renato Veiga, Nuno Mendes, Joao Neves, dan Francisco Conceicao. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa Portugal sedang membangun fondasi baru. Ronaldo menilai momen ini sebagai era baru bagi tim nasional, dengan tugasnya membantu mengarahkan talenta-talenta tersebut agar cepat matang.
Jadwal Portugal dan Tantangan di Era Baru
Portugal akan menjamu Wales di Estadio Jose Alvalade pada laga pembuka kampanye mereka. Pertandingan ini sekaligus menjadi awal era baru di bawah kepemimpinan Jorge Jesus. Duel tersebut juga menjadi pertemuan pertama kedua negara sejak semifinal Euro 2016, ketika Portugal keluar sebagai pemenang dengan skor 2-0 sebelum akhirnya menjuarai turnamen itu.
Setelah menghadapi Wales, Portugal masih harus melewati rangkaian laga berat, termasuk dua pertemuan dengan Norwegia yang berlangsung tandang lalu kandang, dengan lawatan ke Denmark di antara keduanya. Jadwal padat ini akan menguji kedalaman skuad Portugal sekaligus menjadi indikator seberapa cepat pemain muda beradaptasi dengan tuntutan level internasional.
Bagi Ronaldo, rangkaian pertandingan itu juga menjadi kesempatan untuk menambah koleksi golnya menuju angka 1.000. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak terlalu mempermasalahkan apakah akan bermain sejak awal atau diistirahatkan, karena hal terpenting baginya adalah kondisi fisik yang prima. Sikap itu dinilai penting agar ia bisa tetap relevan sepanjang kompetisi yang padat.
Dampak bagi Portugal dan Peta Persaingan
Kehadiran Ronaldo di skuad memberi Portugal dua keuntungan sekaligus. Di sisi teknis, ia tetap menjadi ancaman nyata di kotak penalti lawan berkat catatan rata-rata golnya yang stabil. Di sisi nonteknis, sosoknya berfungsi sebagai jembatan antara generasi emas sebelumnya dan para pemain muda yang akan menjadi tulang punggung tim di masa depan.
Namun, keputusan untuk tetap mengandalkan pemain berusia 41 tahun juga memunculkan pertanyaan soal regenerasi. Jorge Jesus perlu menyeimbangkan antara memanfaatkan ketajaman Ronaldo dan memberi ruang bermain bagi penyerang muda seperti Fabio Silva. Cara pelatih mengelola menit bermain akan sangat menentukan apakah transisi Portugal berjalan mulus tanpa mengorbankan hasil di lapangan.
Di level yang lebih luas, kisah Ronaldo mengejar 1.000 gol menjadi salah satu narasi paling menarik dalam sepak bola saat ini. Angka tersebut bukan hanya soal statistik pribadi, tetapi juga cerminan panjangnya karier seorang pemain yang mampu bertahan di level tertinggi selama lebih dari dua dekade. Pencapaian itu, jika terwujud, akan menjadi patokan baru bagi generasi pesepak bola berikutnya.
Secara keseluruhan, Cristiano Ronaldo memilih melanjutkan karier internasionalnya karena dua alasan utama: ambisi menembus 1.000 gol dan keinginan membantu Portugal meraih gelar Nations League ketiga. Dengan modal 979 gol serta rekam jejak apik bersama Jorge Jesus, ia percaya diri bisa tetap berkontribusi, baik melalui gol maupun melalui perannya sebagai panutan bagi pemain muda.
Laga melawan Wales akan menjadi ujian pertama untuk membuktikan bahwa keputusan itu tepat. Jika Portugal mampu tampil solid di awal era baru ini, jalan menuju gelar juara kembali terbuka lebar, sekaligus memberi Ronaldo panggung untuk terus menambah koleksi golnya hingga menyentuh angka empat digit.