Kemenangan Rangers atas Celtic di Celtic Park bukan sekadar tambahan tiga poin biasa. Gol tunggal Ryan Naderi sudah cukup membawa Rangers pulang dengan kemenangan kedua beruntun atas rival sekota, sekaligus membalik arah momentum di Glasgow. Marginnya memang hanya satu gol, tetapi dominasi tim tamu sepanjang laga membuat hasil itu terasa jauh lebih telak daripada angka di papan skor.
Manajer Derek McInnes sendiri menolak bersikap berlebihan. Dalam wawancara radio, ia menyebut hasil ini “sekadar tiga poin” dan “tiga poin lebih dekat ke Celtic”. Namun catatan sejarah berkata lain: ia menjadi manajer Rangers pertama yang memenangi dua laga pertamanya melawan Celtic sejak Graeme Souness pada 1986, ketika McInnes masih berusia 15 tahun. Di sisi lain, Martin O’Neill kini menghadapi tekanan yang terus menumpuk dari pekan ke pekan.

Statistik Kemenangan Rangers atas Celtic di Babak Pertama
Rangers tidak sekadar unggul lewat gol Naderi saat turun minum. Mereka memenangi hampir semua duel di seluruh area lapangan, persis seperti yang mereka lakukan sepekan sebelumnya. Keunggulan di udara tercatat 67,6 persen berbanding 32,4 persen, tembakan delapan berbanding satu, dan tembakan tepat sasaran enam berbanding nol. Angka-angka itu menggambarkan satu hal sederhana: Celtic nyaris tidak pernah menguasai pertandingan.
Potret duel per pemain juga berbicara sama. Camilo Duran hanya mencatat delapan sentuhan bola, Kevin Kelsy 13 sentuhan, sementara Naderi mencapai 23 sentuhan. Hampir seluruh pertarungan individual berakhir sebagai kemenangan kubu Rangers.
Meski begitu, McInnes punya alasan untuk merasa timnya belum mencapai puncak. Sepekan sebelumnya di Ibrox, Rangers tampil jauh lebih kejam dan efisien. Kali ini mereka menang senyaman mungkin untuk sebuah laga yang berakhir dengan selisih satu gol, padahal kemenangan dua gol akan jauh lebih pantas mencerminkan superioritas mereka.
Kronologi: Bagaimana Celtic Terpuruk Secepat Ini
Beberapa pekan lalu, situasinya nyaris berkebalikan. Saat Rangers tersingkir dari kompetisi Eropa dengan diiringi cemoohan penonton, McInnes terang-terangan membedah kelemahan timnya sendiri. Ia menyebut skuadnya bukan tim penguasa bola, bukan tim penekan, dan bukan tim penyerang balik. Skuadnya juga dinilai terlalu muda, terlalu minim pengalaman, sekadar kumpulan individu tanpa identitas dan pola permainan yang jelas.
Di kubu Celtic, keruntuhan justru datang berlapis-lapis. Kekalahan 5-1 dari LASK di Liga Champions seolah menghapus bukan hanya rasa percaya diri, tetapi juga nyali dan jiwa bertanding. Setelah itu ada kekalahan di Liga Europa melawan Ferencvaros, di mana Celtic hanya sempat menunjukkan reaksi singkat di awal laga sebelum kembali dihajar.
Kekalahan 3-0 di Piala Liga di Ibrox menegaskan bahwa masalahnya bukan kebetulan. Kini Celtic mencatat kekalahan buruk ketiga secara beruntun, dan yang keempat dalam kurun satu bulan. Rentetan itu membuat laga di Celtic Park bukan lagi sekadar derby biasa, melainkan cerminan krisis yang sedang berlangsung.
Analisis: Keputusan O’Neill yang Tidak Berjalan
O’Neill mengklaim “tidak banyak perbedaan” antara kedua tim, tetapi publik Celtic sendiri sulit menerima pernyataan itu. Timnya tampak lemah secara fisik dan rapuh secara mental, dan telah kehilangan kelincahan yang sempat terlihat di beberapa laga awal musim. Mereka kalah dalam penguasaan, kalah dalam duel fisik, dan kalah dalam hal taktik.
Sejumlah keputusan O’Neill memperburuk keadaan. Menurunkan Sebastian Tounekti sejak awal di Ibrox adalah pilihan yang terasa janggal, dan ia harus menariknya saat jeda. Memasang Sam Johnstone di bawah mistar pada laga berikutnya juga berbuah petaka. Memberi Luke McCowan start pertamanya musim ini pada hari Minggu pun tidak berhasil; sang gelandang kehilangan ritme dan tidak keluar lagi di babak kedua.
Persoalan skuad turut membelitnya. O’Neill tidak memiliki gelandang bertipe tangguh karena manajemen belum mendatangkannya, dan ia juga tidak punya winger sekaliber yang dimiliki klub ketika Daizen Maeda, Liel Abada, Jota yang masih belum fit, serta Nicolas Kuhn masih tersedia. Dengan absennya Yang Hyun-jun, pilihan terbaik di sektor sayap jatuh kepada James Forrest, pemain berusia 35 tahun, menurut penilaian mantan kapten Scott Brown.
Ketika pemain bintang macam Kasper Hogh, rekrutan termahal dalam sejarah klub, masuk sebagai pengganti, keadaan tidak banyak berubah. Hogh kembali tidak mendapat suplai bola, dan ia mulai terlihat seperti pemain yang begitu kehilangan kepercayaan diri sehingga sekalipun bola datang, belum tentu ia menyelesaikannya seperti saat masih berseragam Bodo/Glimt. Menambah masalah, Callum McGregor sebagai pemimpin tim terus diterobos di lini tengah.
Implikasi: Regenerasi Rangers dan Pergeseran Kekuatan
Hal paling mencolok dari kemenangan Rangers atas Celtic ini adalah soal usia. Rata-rata pemain inti kedua tim hanya berselisih tipis di atas kertas, 26,7 berbanding 24,4, tetapi dampaknya terasa besar. Pemain Rangers tertua yang menjadi starter adalah James Penrice, yang berusia 27 tahun, sementara Celtic menurunkan enam pemain yang lebih tua darinya.
Pemain-pemain muda Rangers justru tampil sebagai penggerak utama. Olwethu Makhanya, 22 tahun, kembali menjadi bek paling dominan dan paling berkelas di lapangan untuk pekan kedua berturut-turut. Ryan Naderi, 23 tahun, lagi-lagi menjadi penyerang paling pekerja keras dan paling efektif, sementara Dan Neil (24) dan Nico Raskin (25) sangat berpengaruh di lini tengah.
Perubahan status Neil menjadi simbol pergeseran ini. Belum lama ini ia tampak biasa saja, tetapi kini ia tumbuh cepat sebagai kapten Rangers. Kelemahan yang dulu dikritik McInnes, yakni skuad yang terlalu hijau dan tanpa identitas, berubah menjadi kekuatan dalam waktu singkat. Kematangan dan kekompakan yang mereka tunjukkan melawan Celtic adalah bukti bahwa McInnes benar-benar menemukan formula yang tepat.
Konteks Lebih Luas: Pertanyaan Besar untuk O’Neill
McInnes tidak salah soal tiga poin, tetapi momentum di Glasgow kini miliknya. Energi, kejelasan arah, dan optimisme sedang berwarna biru, bukan hijau. Pergeseran kekuasaan ini berlangsung dengan kecepatan yang nyaris sulit dipercaya, dan tentu saja bisa berbalik lagi bila Celtic mampu membenahi diri.
Namun pertanyaan yang kini menghadang jauh lebih berat daripada apa pun yang pernah dihadapi O’Neill di kota ini. Kemampuan legendarisnya dalam memecahkan masalah dan membangkitkan semangat pemain sedang tidak terlihat. Seluruh operasi klub, mulai dari level manajemen, jajaran pelatih, hingga para pemain, tampak lesu dan membutuhkan gebrakan besar.
Jika O’Neill memang masih memiliki jawabannya, ia butuh sokongan yang jauh lebih besar dari para asistennya, atau mungkin asisten yang lebih mumpuni. Sementara itu, Rangers tampil seperti klub yang tahu ke mana arah tujuannya. Sebaliknya, Celtic terlihat tersesat di tengah kabut kebingungan dan ketidakpastian.
Kemenangan Rangers atas Celtic kali ini menegaskan bahwa keunggulan di lapangan lahir dari perencanaan yang matang, bukan keberuntungan semata. Rangers membangun skuad muda, menemukan pola permainan, dan memanen hasilnya di laga paling bergengsi, sementara Celtic masih berkutat dengan masalah fisik, mental, dan taktik yang belum terselesaikan.
Yang menarik, McInnes tetap menolak euforia berlebihan, dan sikap itu justru menjadi pertanda paling jelas bahwa timnya tahu langkah berikutnya. Bagi Celtic, jeda waktu untuk mengevaluasi diri mungkin datang tepat pada saatnya, karena tanpa perubahan nyata, jarak di klasemen bisa ikut melebar seperti jarak kualitas yang terlihat di lapangan.








