Manajer Rangers, Derek McInnes, dengan jujur mengakui bahwa timnya belum siap tampil di Europa League setelah tersingkir secara agregat 3-2 dari wakil Polandia, Jagiellonia Bialystok. Kekalahan di babak kualifikasi ketiga itu memupus harapan Rangers untuk berlaga di kompetisi tingkat kedua UEFA musim ini. Satu-satunya peluang mereka untuk tetap merasakan atmosfer sepak bola Eropa adalah mengalahkan Jablonec dari Republik Ceko pada babak play-off Conference League.
Hasil ini tentu menjadi pukulan telak bagi klub sebesar Rangers yang selalu setidaknya tampil di fase grup Europa League sejak musim 2017-18. Sebelumnya, pada leg pertama di kandang Jagiellonia, Rangers sudah kalah 2-1, sehingga mereka butuh kemenangan di Ibrox Stadium pada Kamis malam (13/8). Namun, hasil imbang 1-1 di depan pendukung sendiri membuat perjalanan mereka di Europa League harus berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.

Kronologi Laga di Ibrox: Gol Shankland Tak Cukup
Rangers sebenarnya memulai pertandingan dengan cukup baik dan unggul lebih dulu melalui titik penalti pada babak pertama. Lawrence Shankland yang ditunjuk sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya dengan tenang. Gol tersebut menjadi yang pertama bagi Shankland sejak mengikuti McInnes dari Hearts, namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Jagiellonia berhasil menyamakan kedudukan lewat sundulan kuat Nik Prelec yang tidak mampu dihalau kiper Rangers. Skor 1-1 bertahan hingga wasit meniup peluit panjang, dan agregat 3-2 memastikan langkah Jagiellonia melaju ke babak berikutnya. Para pemain Rangers terlihat kehabisan ide untuk membongkar pertahanan lawan di sisa waktu yang ada.
Saat pertandingan usai, ejekan bernada kecewa menggema di seluruh sudut Ibrox. McInnes mengakui bahwa reaksi frustrasi para pendukung tersebut memang sepantasnya terjadi. Ia menilai penampilan timnya di babak kedua jauh dari kata layak, sehingga kekecewaan suporter adalah konsekuensi yang wajar.
Pengakuan Jujur McInnes: Tim Belum Siap
McInnes tidak berusaha mencari alasan atas kegagalan timnya. Ia secara terbuka mengatakan bahwa permainan yang ditampilkan anak asuhnya tidak enak ditonton. “Tim saya sempat berada di titik tertinggi pada babak pertama, lalu menjadi sangat buruk di babak kedua, dan Anda harus mengakui kami tidak melakukan cukup banyak hal,” ujarnya kepada wartawan.
Pernyataan paling menohok datang ketika McInnes menyebut timnya belum siap bersaing di kompetisi level Eropa. “Klub ini dibangun untuk Liga Champions dan Europa League, tetapi saya rasa tim ini belum siap untuk itu, dan saya merasa sakit mengatakannya,” tutur mantan manajer Hearts tersebut. Pengakuan ini menunjukkan betapa dalamnya krisis kepercayaan diri yang sedang melanda skuad Rangers.
McInnes juga menegaskan bahwa timnya butuh tambahan kualitas dan kepercayaan diri secara cepat. “Itulah tugas yang saya emban ketika datang ke Rangers. Dengan finis ketiga musim lalu, apa yang ditampilkan tidak cukup bagus. Kami harus segera menggerakkan segalanya ke arah yang benar,” tegasnya. Ia pun menilai laga ini seharusnya bisa dimenangkan jika Rangers tampil dengan standar terbaik mereka.
Tekanan Berat di Pundak McInnes dan Dampaknya
Kekalahan ini semakin memperpanjang catatan buruk McInnes di awal kepemimpinannya. Dari empat laga kompetitif pertamanya, ia belum sekalipun merasakan kemenangan dengan rincian dua imbang dan dua kalah. Kondisi ini jelas tidak ideal bagi seorang manajer yang dibawa untuk mengembalikan kejayaan Rangers.
Apalagi, ekspektasi di Ibrox selalu tinggi mengingat klub memang dipersiapkan untuk bersaing di level tertinggi Eropa. Kegagalan mencapai fase grup Europa League untuk pertama kalinya sejak 2017-18 tentu menjadi noda besar. Tekanan dari publik dan media pun dipastikan akan semakin menghujam McInnes dalam beberapa pekan ke depan.
Meski begitu, McInnes tetap memberikan apresiasi kepada lawannya. “Jagiellonia adalah tim yang cukup bagus dengan beberapa pemain berkualitas, dan saya rasa mereka dilatih dengan baik. Tetapi Rangers, dalam performa terbaiknya, seharusnya bisa memenangi pertandingan ini,” ujarnya. Sikap ini menunjukkan bahwa ia tidak meremehkan lawan, tetapi sekaligus menyadari standar yang harus dipenuhi timnya.
Jadwal Padat dan Peluang Terakhir di Conference League
Rangers tidak punya banyak waktu untuk meratapi kekalahan ini. Mereka dijadwalkan menjamu St. Mirren pada putaran kedua Piala Liga akhir pekan ini, tepatnya hari Minggu. Enam hari kemudian, kedua tim akan kembali bertemu di kompetisi Premiership, dan McInnes diharapkan mampu membawa timnya meraih kemenangan pertama.
Di sisi lain, Rangers masih menyimpan secercah harapan untuk tampil di Eropa musim ini melalui Conference League. Namun, syaratnya jelas: mereka harus menaklukkan Jablonec dari Republik Ceko di babak play-off. Jika gagal, Rangers dipastikan menjalani musim tanpa aktivitas Eropa sama sekali, sebuah skenario yang tidak bisa diterima oleh klub sebesar Rangers.
Kegagalan di Europa League ini juga menjadi bahan evaluasi besar bagi manajemen dan staf pelatih. Perbaikan kualitas skuad, mentalitas pemain, dan strategi permainan harus segera dilakukan. Dengan jadwal yang padat, McInnes dituntut bisa beradaptasi cepat dan menemukan formula yang tepat untuk membangkitkan timnya.
Kekalahan dari Jagiellonia Bialystok menjadi alarm paling nyata bahwa Rangers saat ini masih jauh dari standar Eropa. Pengakuan McInnes bahwa timnya belum siap tampil di Europa League harus segera dijawab dengan perbaikan nyata di lapangan. Semua harapan kini bertumpu pada play-off Conference League melawan Jablonec, plus dua laga kontra St. Mirren yang bisa menjadi titik balik kebangkitan Rangers.
Musim masih panjang, tetapi ruang gerak McInnes semakin sempit. Setiap laga ke depan akan menjadi ujian besar, baik bagi mentalitas pemain maupun kemampuan pelatih dalam meracik strategi. Pertanyaannya kini tinggal satu: bisakah Rangers bangkit dan membuktikan bahwa mereka memang pantas berada di panggung Eropa?








