Pembersihan Tunawisma Atlanta Saat Piala Dunia: Antara Estetika Kota dan Hak Asasi
Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko membawa euforia sepak bola, namun di balik gemerlap pertandingan, ada sisi kelam yang jarang terlihat: pembersihan tunawisma di kota tuan rumah. Atlanta, salah satu tuan rumah utama, menjadi sorotan setelah sejumlah kamp tunawisma dibersihkan paksa menjelang dan selama turnamen. Warga tak berumah mengaku diperlakukan seperti “tanda dolar”, bukan manusia. Mereka merasa didorong keluar dari pusat kota demi citra wisata yang bersih.
Artikel ini mengungkap bagaimana pembersihan tunawisma Atlanta saat Piala Dunia berlangsung, mulai dari kesaksian para korban, kebijakan kontroversial pemerintah, hingga dampak sosial yang meluas. Fenomena ini bukan hal baru, tetapi intensitasnya meningkat drastis saat event besar seperti Piala Dunia.
Kesaksian Warga Tunawisma: “Kami Bukan Sampah, Kami Manusia”

Sirius, seorang tunawisma yang tinggal di dekat pusat kota Atlanta, menceritakan pengalamannya dibawa paksa ke pusat penampungan di luar West End. “Mereka menurunkan saya di tengah malam. Katanya pusat Mormon, tapi itu hanya gudang berisi polisi. Terlihat seperti kamp FEMA. Begitu lihat, saya langsung pergi dan jalan kaki kembali ke sini. Ini semua karena Piala Dunia. Mereka ingin kota terlihat bagus untuk turis,” ujarnya.
Drayvon Clark, tunawisma lain, menambahkan rasa frustrasi yang mendalam. “Banyak komunitas kami terusir. Kami bukan sekadar angka dolar. Kami manusia. Kami marah karena mereka memilih memperlakukan kami kurang dari manusia demi uang. Bukan berarti kami tidak suka sepak bola, tapi ini traumatis. Mereka mendatangkan penjaga taman pihak ketiga untuk mengusir orang-orang kami,” kata Clark.
Kebijakan Pemkot Atlanta: “Tidak Ada Tempat bagi Tunawisma”
Wali Kota Atlanta, Andre Dickens, dengan tegas menyatakan bahwa tunawisma tidak boleh berada di dekat pusat kota, tidak hanya saat Piala Dunia, tetapi selamanya. Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan nasional yang diperkuat Wakil Presiden JD Vance, yang dalam pidatonya di Peachtree City mengatakan, “Anda tidak harus menyeberang jalan di pusat Atlanta untuk menghindari orang gila yang berteriak pada keluarga Anda.” Ucapan itu menuai kritik karena dianggap kasar dan stigmatis.
Atlanta meluncurkan program Downtown Rising yang bertujuan membersihkan kamp tunawisma di pusat kota sebelum turnamen. Program ini mengklaim telah menampung 500 orang. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan pendekatan yang keras, bahkan tragis.
Tragedi di Balik Pembersihan: Kematian Cornelius Taylor
Pada Januari 2025, Cornelius Taylor tewas tergilas buldoser seberat lima ton saat tidur di tendanya di Old Wheat Street, kawasan bersejarah Sweet Auburn. Pekerja kota datang untuk membersihkan jalan dan tidak menyadari Taylor masih di dalam tenda. Tunangannya kemudian menemukan potongan tubuh dan darah di antara barang-barang Taylor. Peristiwa ini memicu janji perbaikan protokol, tetapi masih banyak ketidakjelasan tentang implementasinya.
Pembersihan Tunawisma: Praktik Lama yang Semakin Brutal
Pembersihan tunawisma di kota tuan rumah event besar bukan hal baru. Pada Olimpiade Atlanta 1996, sekitar 9.000 orang ditahan di pusat tahanan de facto. Paris juga mengangkut tunawisma keluar pusat kota saat Olimpiade 2024. Menjelang Piala Dunia ini, program serupa bermunculan: Los Angeles menyewa motel, Dallas membersihkan kamp 200 tenda, dan Seattle berjanji membangun 500 rumah, namun ternyata hanya 50 terealisasi.
Di Atlanta, Pusat Kesehatan dan Rehabilitasi Fulton County yang merawat tunawisma dengan masalah kesehatan mental melaporkan penurunan jumlah penghuni jalanan selama Piala Dunia. Namun, seorang petugas mengaku tidak tahu ke mana mereka dibawa, apakah ada pilihan relokasi, atau mereka dipindahkan jauh tanpa pemberitahuan.
Kontradiksi Piala Dunia: Sepak Bola Pemersatu atau Alat Pengusiran?
FIFA berkampanye tentang kekuatan sepak bola menyatukan dunia. Namun, di Atlanta, kenyataannya justru sebaliknya. Sirius menyindir, “Orang kulit hitam Atlanta tidak bermain sepak bola. Jadi kalian mengundang dunia untuk berpartisipasi dalam olahraga yang bahkan tidak melibatkan kami. Ini permainan yang menghasilkan banyak uang, tapi bukan untuk kami. Kecuali lapangan bermain diratakan, semuanya akan tetap sama.”
Ia menambahkan, “Mereka selalu menghadirkan event besar yang membutakan semua orang. Ingat film Gladiator? Begitulah Piala Dunia. Alat pengalih perhatian. Mereka memperlakukan kami seperti sampah, tapi begitulah Amerika. Pada akhirnya, mereka harus berhadapan dengan surga dan neraka. God bless America.”
Kesimpulan: Pembersihan Tunawisma Atlanta Jadi Cermin Kesenjangan Sosial
Pembersihan tunawisma saat Piala Dunia di Atlanta menunjukkan betapa brutalnya ketimpangan di Amerika. Lebih dari 770.000 orang tak berumah di seluruh negeri, dan ratusan RUU baru mengkriminalisasi tidur di luar ruangan. Piala Dunia hanya mempercepat proses itu. Di balik sorak sorai stadion, warga tunawisma terusir, hak-hak mereka diabaikan, dan suara mereka tenggelam oleh gemuruh komersialisasi olahraga.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa sepak bola dan event global tidak bisa menjadi dalih untuk melupakan kemanusiaan. Pembersihan tunawisma bukan sekadar “perawatan taman rutin”, melainkan pilihan politik yang menentukan siapa yang layak tampil di wajah kota.








