Dukungan Asia untuk Infantino Buka Jalan Periode Keempat

Dukungan Asia untuk Infantino kembali menguat setelah Ketua Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa menyatakan sikapnya secara terbuka. Ia mendukung Gianni Infantino mencari mandat baru sebagai presiden FIFA, sehingga harapan tokoh asal Swiss itu mempertahankan kursi kepemimpinan mendapat dorongan besar. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Kongres AFC di Tokyo yang juga dihadiri Infantino, sehingga sinyal dukungan itu terlihat langsung di depan tokoh-tokoh sepak bola Asia.

Dukungan ini penting karena terjadi hanya sekitar dua bulan setelah Sheikh Salman bersama pemimpin UEFA dan Concacaf menandatangani surat bersama yang mengkritik Infantino. Kritik itu muncul terkait rencana kontroversial menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta, yang akhirnya gagal. Perubahan sikap Salman karena itu menjadi indikasi bahwa tekanan terhadap Infantino di lingkungan konfederasi tidak serta-merta berujung pada penolakan menjelang pemilihan presiden FIFA.

Dukungan Asia untuk Infantino Buka Jalan Periode Keempat

Arti Dukungan Asia untuk Infantino

Dalam pidatonya di Kongres AFC, Sheikh Salman menyatakan kembali komitmen penuh untuk mendukung Infantino saat mencalonkan diri lagi sebagai presiden FIFA. Ia menyebut telah berbicara dengan banyak anggota di kawasan Asia dan menilai dukungan mereka terhadap Infantino sangat jelas. Menurutnya, langkah itu menjadi bagian dari keinginan keluarga sepak bola Asia untuk bergerak maju secara bersama-sama.

Infantino menyambut baik dukungan tersebut dan menyebut dirinya merasa senang dengan sikap AFC. Ia juga memuji kinerja Salman selama 13 tahun memimpin AFC dan menegaskan komitmen kerja sama FIFA dengan konfederasi Asia. Dalam pandangan Infantino, hubungan yang sudah terbangun selama ini menjadi dasar penting untuk melanjutkan kerja sama ke depan.

Dukungan resmi dari pemimpin AFC tidak hanya bersifat simbolis. Dalam struktur FIFA, suara konfederasi dan anggotanya menentukan arah pemilihan presiden, sehingga pernyataan seorang ketua konfederasi bisa memengaruhi cara anggota lain menilai kandidat. Karena itu, sikap Salman menjadi sinyal politik yang diperhitungkan menjelang kongres pemilihan.

Dari Surat Kritik ke Perubahan Sikap

Dukungan Salman terlihat sebagai perubahan arah yang cukup mencolok. Dua bulan sebelumnya, ia menandatangani surat bersama dengan pimpinan UEFA dan Concacaf yang mengecam Infantino terkait rencana menjual saham Piala Dunia kepada investor swasta. Dalam surat itu, ketiga konfederasi menuduh Infantino melanggar kepercayaan melalui cara-cara yang menyesatkan dalam skema FIFA Forward Enterprise. Mereka juga menilai proposal tersebut menunjukkan kegagalan pertimbangan yang serius dan tidak sesuai dengan kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan sepak bola.

Kritik itu menjadi salah satu momen paling terbuka ketika sejumlah konfederasi besar mempertanyakan kepemimpinan Infantino. Rencana penjualan saham Piala Dunia memang menuai perhatian karena menyangkut aset utama FIFA dan masa depan turnamen paling bergengsi itu. Namun, dalam pertemuan di Jepang, Salman memilih menekankan perlunya melangkah maju daripada membuka kembali perdebatan lama.

Salman mengakui ada persoalan yang sempat dibahas, tetapi ia meminta agar isu tersebut tidak terus dikaitkan dengan pencalonan Infantino. Ia menegaskan bahwa sebagai keluarga sepak bola Asia, para anggota siap bergerak maju dan bersatu mendukung Infantino. Pernyataan ini kontras dengan nada surat kritik sebelumnya dan menjadi bukti bahwa dukungan politik dalam FIFA bisa berubah cepat.

Peta Suara dan Peluang Mandat Keempat

Dukungan Asia melengkapi basis kekuatan Infantino yang selama ini disebut berada di Afrika dan Amerika Selatan. Pada pemilihan di Rabat bulan Maret, UEFA akan memiliki 55 suara, Afrika 54, Asia 46, Concacaf 35, Oceania 11, dan Conmebol 10. Dengan komposisi itu, tambahan dukungan dari Asia berpotensi memperbesar peluang Infantino mengamankan periode keempat sekaligus terakhirnya.

Hingga batas pendaftaran kandidat pada 18 November, belum ada nama yang mengajukan diri untuk menantang Infantino. Kondisi ini membuka kemungkinan ia maju tanpa lawan, meski kepastiannya tetap bergantung pada proses pencalonan. Sejumlah tokoh yang sempat diperkirakan menjadi pesaing, seperti Presiden Concacaf Victor Montagliani dan ketua UEFA Aleksander Ceferin, sudah memberi isyarat bahwa mereka tidak akan ikut bertarung.

Dalam politik FIFA, dukungan satu konfederasi tidak otomatis berarti seluruh anggotanya akan memilih kandidat yang sama. Meski begitu, dukungan dari ketua AFC tetap penting karena memberi pesan bahwa Infantino masih memiliki jaringan dukungan di tingkat regional. Bagi kubu Infantino, sinyal semacam ini membantu meredam narasi perlawanan yang sempat menguat setelah polemik rencana penjualan saham Piala Dunia.

Tuntutan UEFA dan Pertanyaan Tata Kelola

Meski memperoleh dukungan Asia, Infantino belum sepenuhnya lepas dari kritik. Pada pertemuan Dewan FIFA pekan lalu, ia meminta maaf atas rencana penjualan saham Piala Dunia, tetapi tidak memberikan penjelasan menyeluruh tentang bagaimana proposal itu disusun. Sikap itu membuat sebagian pihak masih mempertanyakan proses pengambilan keputusan di internal FIFA.

UEFA kemudian meminta FIFA merilis dokumen-dokumen penting dan menjawab semua pertanyaan terkait tata kelola serta pengambilan keputusan. Tenggat yang diberikan adalah 2 November. Permintaan ini menunjukkan bahwa persoalan transparansi masih menjadi titik lemah yang bisa membayangi perjalanan Infantino menuju masa jabatan berikutnya.

Di sisi lain, Infantino juga mengusulkan penambahan dana pengembangan sepak bola di seluruh dunia sebesar 3,4 miliar dolar AS atau sekitar 2,6 miliar poundsterling. Usulan itu dapat dibaca sebagai upaya menjaga dukungan anggota di tengah tekanan terhadap kepemimpinannya. Namun, tanpa penjelasan tuntas soal tata kelola, dukungan finansial dan politik tetap akan disorot oleh pihak yang meragukan akuntabilitas FIFA.

Konteks Lebih Luas bagi Pemilihan FIFA

Kasus ini memperlihatkan bahwa pemilihan presiden FIFA tidak hanya soal popularitas pribadi, tetapi juga soal kemampuan merawat koalisi antarwilayah. Dukungan Afrika, Amerika Selatan, dan kini Asia memberi Infantino modal politik yang kuat menghadapi kemungkinan tantangan. Sebaliknya, kritik dari UEFA dan Concacaf menunjukkan bahwa konfederasi besar tetap bisa menjadi pengawas sekaligus penekan kebijakan FIFA.

Perubahan sikap Salman juga mengingatkan bahwa aliansi dalam sepak bola internasional bersifat dinamis. Isu seperti penjualan saham Piala Dunia bisa memicu kecaman keras, tetapi kepentingan regional dan hubungan kerja jangka panjang dapat mendorong pihak-pihak yang semula mengkritik untuk kembali bekerja sama. Dalam konteks itu, dukungan Asia untuk Infantino bukan sekadar pernyataan retoris, melainkan bagian dari perhitungan politik menjelang pemilihan.

Ke depan, perhatian akan tertuju pada dua hal: apakah dokumen yang diminta UEFA benar-benar dibuka, dan apakah ada kandidat yang muncul sebelum tenggat 18 November. Jika tidak ada penantang, Infantino berpeluang besar melanjutkan kepemimpinannya. Namun, jika pertanyaan tata kelola terus dibiarkan, dukungan politik yang kuat pun bisa tetap disertai bayang-bayang kritik.

Secara garis besar, dukungan Sheikh Salman memberikan dorongan besar bagi Infantino dalam mengejar periode keempat. Dukungan Asia untuk Infantino memperkuat posisinya di tengah peta suara konfederasi, terutama karena ia sudah memiliki basis di Afrika dan Amerika Selatan. Namun, polemik rencana penjualan saham Piala Dunia serta tuntutan UEFA soal transparansi menunjukkan bahwa perjalanan menuju pemilihan masih akan diwarnai sorotan.

Bagi pembaca yang mengikuti politik sepak bola, dinamika ini menunjukkan bahwa kepemimpinan FIFA ditentukan oleh kombinasi dukungan regional, rekam jejak kebijakan, dan kemampuan menjawab kritik. Selama pertanyaan soal tata kelola belum tuntas, setiap dukungan baru tetap akan dilihat sebagai bagian dari negosiasi politik, bukan akhir dari persoalan. Karena itu, hasil akhirnya akan bergantung pada bagaimana Infantino menjaga koalisi sekaligus merespons tuntutan akuntabilitas.