Granit Xhaka Ingin Sunderland Membara di Liga Europa

Kapten Sunderland, Granit Xhaka, menegaskan bahwa dirinya ingin melihat rekan-rekan setimnya tampil “membara” saat menjalani laga pembuka Liga Europa melawan AZ Alkmaar. Pertandingan yang digelar pada hari Rabu di Stadium of Light itu akan menjadi laga kelima Sunderland di kompetisi Eropa sepanjang sejarah klub. Xhaka berharap atmosfer stadion bisa menjadi bahan bakar tambahan bagi timnya untuk menghadapi lawan yang tidak bisa diremehkan.

Antusiasme tersebut bukan tanpa alasan. Sunderland terakhir kali tampil di kompetisi Eropa utama pada 7 November 1973, yang berarti ada jeda 52 tahun dan 313 hari sebelum mereka kembali berlaga di panggung Eropa. Dalam rentang waktu itu, hanya dua klub yang mencatat jeda lebih panjang, yakni Go Ahead Eagles dengan 59 tahun 353 hari dan Union Saint-Gilloise dengan 57 tahun 336 hari. Karena itulah laga kontra AZ Alkmaar terasa lebih dari sekadar pertandingan pembuka, baik bagi klub maupun bagi para pendukung yang sudah lama menantikan momen ini.

Granit Xhaka

Jejak Sunderland di Kompetisi Eropa

Sebelum menghadapi AZ Alkmaar, Sunderland baru empat kali bermain di kompetisi Eropa. Keempat pertandingan itu terjadi pada Cup Winners’ Cup musim 1973-74, ketika The Black Cats menyingkirkan Vasas SC di babak pertama dengan agregat 3-0. Hasil tersebut menjadi satu-satunya catatan kemenangan Sunderland di panggung Eropa hingga saat ini.

Langkah mereka kemudian terhenti di babak 16 besar. Sunderland harus mengakui keunggulan Sporting CP dengan agregat 2-3, sekaligus menutup perjalanan mereka di turnamen tersebut. Sejak pertandingan terakhir pada November 1973 itu, tidak ada lagi laga Eropa yang dimainkan klub ini, sehingga pertemuan dengan AZ Alkmaar menjadi titik balik yang dinanti-nantikan.

Pesan Xhaka untuk Para Pemain dan Pendukung

Menjelang laga tersebut, Xhaka menyampaikan pesan yang jelas kepada rekan-rekan setimnya. “Saya ingin melihat stadion membara dan para pemain kami membara,” ujar kapten asal Swiss itu. Ia menilai momen seperti ini layak disambut dengan energi penuh, bukan dengan keraguan.

Xhaka juga mengingatkan bahwa Sunderland telah melewati musim yang istimewa sebelum kembali ke kompetisi Eropa. “Kami tahu kami menulis sesuatu yang bersejarah musim lalu dan sekarang kami mulai merasakan kegembiraannya. Stadion akan membara,” katanya. Menurutnya, posisi Sunderland saat ini adalah hasil kerja keras yang pantas didapatkan oleh seluruh skuad. “Kami layak berada di posisi ini. Tidak ada yang lebih baik daripada bersaing di sepak bola Eropa,” tambahnya.

Meski begitu, ia tidak menutup mata terhadap beratnya tantangan yang menanti. Xhaka menilai sepak bola Eropa memiliki karakter yang berbeda dibandingkan Premier League, dan perbedaan itu menuntut kesiapan tersendiri. “Sepak bola Eropa berbeda dari Premier League dan itu menantang, tapi suasana sangat positif,” jelasnya. Karena itu, ia menekankan pentingnya memisahkan persiapan untuk kedua kompetisi tersebut agar tim tidak kehilangan fokus di salah satunya.

Modal Pengalaman Xhaka di Liga Europa

Pesan Xhaka tentu tidak datang dari ruang kosong. Sejak Liga Europa memakai nama tersebut pada 2009-10, hanya ada delapan pemain yang mencatat lebih banyak penampilan daripada dirinya, yang kini mengoleksi 63 laga. Catatan itu menjadikannya salah satu sosok paling berpengalaman di kompetisi ini, setidaknya di antara para pemain yang masih aktif berlaga.

Pengalamannya di Liga Europa juga mencakup dua laga final, meski keduanya berakhir pahit. Pada musim 2023-24, ia tampil di partai puncak bersama Bayer Leverkusen dan harus menerima kekalahan 3-0 dari Atalanta. Sebelumnya, pada 2018-19, ia juga gagal meraih gelar saat membela Arsenal yang tumbang 4-1 melawan Chelsea.

Dua kekalahan di final itu justru memberi warna tersendiri pada motivasinya. Sebagai pemain internasional Swiss, Xhaka memahami betul bahwa perjalanan panjang di kompetisi Eropa jarang berjalan mulus. Bagi Sunderland, kehadiran pemain dengan jam terbang seperti itu menjadi nilai tambah tersendiri di ruang ganti.

Rekor Buruk AZ Alkmaar di Inggris

Di sisi lain, ada catatan yang bisa menjadi modal psikologis bagi Sunderland. AZ Alkmaar tercatat selalu kalah dalam 11 pertandingan Eropa yang mereka mainkan di kandang lawan asal Inggris, dengan total agregat 31-9. Catatan itu memperlihatkan bahwa bermain di Inggris kerap menjadi ujian berat bagi klub asal Belanda tersebut.

Kecenderungan itu juga terlihat dalam empat musim terakhir. AZ tercatat kalah lima kali di Inggris pada periode tersebut, masing-masing melawan West Ham, Aston Villa, Tottenham dalam dua kesempatan, serta Crystal Palace. Bagi Sunderland, data ini bisa menjadi dorongan tambahan untuk memanfaatkan dukungan penonton di Stadium of Light.

Meski demikian, rekor semata tidak bisa menjamin hasil di lapangan. AZ Alkmaar tetap merupakan lawan yang kompetitif di level Eropa, dan pertandingan pembuka grup sering kali menjadi penentu arah sebuah tim. Karena itu, kombinasi antara atmosfer stadion dan disiplin taktik akan menjadi kunci bagi Sunderland.

Menjaga Keseimbangan di Dua Kompetisi

Salah satu hal yang ditekankan Xhaka adalah pentingnya memisahkan Liga Europa dari Premier League. Menurutnya, kedua kompetisi menuntut pendekatan yang berbeda, mulai dari ritme pertandingan hingga cara tim memulihkan kondisi pemain. Persiapan yang tepat menjadi syarat agar Sunderland tidak kehilangan performa di salah satu ajang.

Bagi klub yang baru kembali ke kompetisi Eropa setelah puluhan tahun, tantangan ini cukup nyata. Jadwal yang lebih padat membuat rotasi pemain dan manajemen kebugaran menjadi bagian penting dari strategi. Di sisi lain, pengalaman bermain di Eropa biasanya membawa efek positif terhadap kepercayaan diri skuad di kompetisi domestik.

Karena itu, laga melawan AZ Alkmaar bukan hanya soal tiga poin. Pertandingan ini menjadi tolok ukur sejauh mana Sunderland mampu beradaptasi dengan level kompetisi yang jauh berbeda dari yang mereka jalani sehari-hari. Hasil di laga pembuka akan memberi gambaran awal tentang seberapa siap mereka menjalani perjalanan panjang di Liga Europa.

Penutup

Laga melawan AZ Alkmaar menjadi momen bersejarah bagi Sunderland setelah jeda 52 tahun 313 hari tanpa pertandingan Eropa utama, sekaligus menjadi ujian pertama bagi tim besutan Xhaka di panggung ini. Modal pengalaman kapten mereka, yang telah mengoleksi 63 penampilan Liga Europa dan dua kali tampil di final, diharapkan membantu tim melewati tekanan. Dukungan penonton di Stadium of Light pun diprediksi menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Sementara itu, rekor buruk AZ Alkmaar di Inggris bisa menjadi sinyal positif bagi tuan rumah, meski tidak ada jaminan apa pun di lapangan. Yang jelas, Xhaka sudah menegaskan satu hal: ia ingin melihat stadion dan para pemainnya sama-sama membara ketika peluit panjang ditiup.