Kiper muda Milo Beimers resmi menandatangani kontrak dengan klub Italia, Viterbese, setelah menempuh perjalanan darat sekitar 2.000 mil menggunakan van bersama sang ayah. Pencarian klub yang ia jalani selama 30 hari di jalan itu berakhir di sebuah kota abad pertengahan, sekitar satu jam dari Roma, tempat Viterbese berlaga di Serie D atau kasta keempat sepak bola Italia.
Kisah Beimers menarik bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi karena caranya. Ia bukan kiper yang menunggu tawaran datang, melainkan memilih keluar dari zona nyaman dan berkeliling Eropa untuk menjalani sejumlah trial. Bagi pemain berusia 18 tahun yang sebelumnya memperkuat Glentoran sejak usia 13 tahun, keputusan itu jelas berisiko, tetapi justru dari situlah jalan karier barunya terbuka.
Jalan Berisiko Milo Beimers Berbuah Kontrak di Italia
Beimers memulai perjalanan dari Belfast bersama ayahnya, Kevin, menggunakan sebuah transit van yang telah dikonversi menjadi tempat tinggal sementara. Rencana awal mereka adalah melintasi Eropa hingga ke Spanyol, lalu berlanjut ke Portugal, dengan sejumlah jadwal trial yang sudah disiapkan. Tidak ada satu pun titik akhir yang pasti, karena sejak awal mereka memang tidak tahu di mana langkah berikutnya akan berlabuh.
Setelah meninggalkan Glentoran, Beimers menjalani trial di klub Spanyol, Hercules. Dari sana ia sempat terbang kembali ke London untuk mengejar peluang lain, sebelum sebuah panggilan mengubah arah perjalanannya ke Italia. Trial yang berhasil di negeri itu membuatnya resmi bergabung dengan Viterbese.
Beimers mengakui perjalanan tersebut penuh pasang surut, tetapi ia menilai risikonya terbayar. Ia juga menyebut pengalaman tinggal di dalam van sebagai sesuatu yang baru, yang mungkin tidak akan ia ulangi, namun memberi banyak pelajaran. Yang paling penting baginya, ia kini bisa melanjutkan perjalanan karier di Eropa.
Kronologi 30 Hari di Jalan Sebelum Panggilan dari Italia
Sebelum berangkat, Beimers sama sekali belum memiliki gambaran ke mana kariernya akan berlanjut. Ia hanya bermodal rencana perjalanan darat sejauh 2.000 mil serta sejumlah trial yang telah diatur. Karena itu, ketika satu bulan berlalu tanpa kejelasan, ada masa-masa ia merasa semuanya berjalan lambat dan membingungkan.
Menurut Beimers, ada periode sekitar sepekan setelah ia kembali dari Inggris di mana tidak ada perkembangan apa pun. Namun tiba-tiba semuanya bergerak cepat dan ia justru berakhir dengan tanda tangan kontrak. Ia mengingat nasihat ibunya bahwa hidup kadang bergerak sangat lambat, lalu berubah sangat cepat dalam sekejap.
Momen kesadaran itu datang ketika ia resmi menandatangani kontrak. Menurutnya, saat itu semua tekanan dan pertanyaan soal mengapa usahanya belum membuahkan hasil seolah terbayar lunas. Ia menggambarkan perasaan bisa menandatangani kontrak sebagai sesuatu yang luar biasa setelah melewati masa penuh ketidakpastian.
Alasan Beimers Memilih Viterbese dan Target Promosi
Viterbese terdegradasi ke Serie D pada musim sebelumnya, dan Beimers menyebut ambisi mengembalikan klub ke kasta ketiga sebagai salah satu daya tarik utama. Untuk musim baru, Viterbese melakukan merger dengan klub lain dengan nama Vigor Campagnano Gialloblu, namun Viterbese tetap menjadi rumah dan DNA mereka. Kombinasi sejarah klub yang panjang serta tantangan kompetitif itulah yang membuat proyek ini menarik bagi kiper muda tersebut.
Selain target promosi, Beimers tertarik pada fasilitas klub, stadion berkapasitas 7.000 penonton, dan orang-orang yang bekerja di balik layar. Ia menekankan bahwa dirinya sangat memperhatikan suasana di luar lapangan, bukan hanya urusan teknis di dalamnya. Karena itu, ia memilih mengikuti instingnya ketika mengambil keputusan bergabung.
Hasilnya langsung terlihat di lapangan. Beimers menjalani debut pada hari Minggu dan mencatatkan clean sheet dalam kemenangan 4-0 atas Anagni. Ia berharap bisa mengukuhkan diri sebagai pilihan utama, tetapi tujuan terbesarnya tetap membantu tim kembali ke Serie C.
Adaptasi Bahasa dan Gaya Bermain Italia
Tantangan berikutnya bagi Beimers adalah bahasa. Ia sama sekali tidak menguasai bahasa Italia, sementara sebagian besar rekan setimnya hanya berbicara sedikit bahasa Inggris. Awalnya ia berniat belajar bahasa Spanyol untuk memudahkan integrasi selama perjalanan, tetapi kini bahasa Italia menjadi prioritas utamanya di Viterbo.
Beimers mengaku terbantu karena orang-orang di sekitarnya ramah dan terbuka untuk mengajarkan banyak hal. Ia merasa pemahamannya berangsur membaik dan setiap hari ada kemajuan. Dukungan itu membantunya beradaptasi dengan kehidupan barunya di kota tersebut.
Di sisi teknis, ia menemukan pendekatan kepelatihan Italia sebagai sesuatu yang benar-benar baru. Mulai dari teknik, cara menyelam, hingga cara menangkap bola dari situasi sepak pojok, semuanya berbeda dari yang ia pelajari sebelumnya. Menurut Beimers, butuh waktu untuk mempelajarinya, tetapi ia antusias dan siap berkembang.
Ia menilai sepak bola punya bahasanya sendiri sebagai alat komunikasi di lapangan. Bagi Beimers, yang menentukan bukan kata-kata yang diucapkan, melainkan cara menyampaikannya. Pendekatan itu membuatnya bisa tetap terhubung dengan rekan-rekan setim meski terkendala bahasa.
Sisi Manusiawi: Kedekatan dengan Ayah dan Si Van Setia
Perjalanan ini awalnya juga diharapkan mendekatkan Beimers dengan ayahnya, Kevin, seorang desainer video game kelahiran Kanada. Beimers menyebut ayahnya sebagai sosok yang tepat untuk menemani perjalanan tersebut. Meski diwarnai pasang surut dan pertengkaran kecil soal hal sepele, pengalaman itu justru membuat hubungan mereka semakin erat.
Beimers mendokumentasikan perjalanannya di media sosial, termasuk saat-saat menyenangkan dan naik turunnya perjalanan. Namun ia juga terbuka soal sisi sulitnya, seperti rasa rindu rumah dan kesepian karena harus membangun karier jauh dari keluarga. Ia menilai penting untuk menunjukkan bahwa perjalanan ini bisa terasa berat, meski dari luar tampak selalu menyenangkan.
Sosok lain di balik perjalanan ini adalah van yang menjadi rumah berjalan bagi ayah dan anak tersebut. Kendaraan itu dibeli oleh saudara perempuan Beimers, Charlie, dalam kondisi yang disebutnya kurang baik, dan sempat tiga kali gagal melewati uji kelayakan kendaraan atau MOT sebelum akhirnya lolos. Setelah bertahan sepanjang perjalanan, van itu akan tetap berada di Eropa untuk kembali kepada pemilik aslinya, yaitu Charlie, yang memang punya rencana berkeliling Eropa dengannya.
Peluang Besar, Coppa Italia, dan Pesan untuk Pemain Muda
Bergabung dengan klub Italia membuka kemungkinan yang sebelumnya hanya menjadi impian Beimers. Sebelum berangkat, ia pernah berbicara soal keinginan menghadapi Barcelona atau Real Madrid. Kini, bila undian menguntungkan, ia berpeluang bertemu Napoli, Roma, atau salah satu klub besar Milan di Coppa Italia.
Beimers menyebut kemungkinan tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa dan bahkan belum sepenuhnya ia proses. Bertemu lawan sebesar itu, menurutnya, akan menjadi salah satu pertandingan terbesar dalam kariernya. Dalam jangka panjang, ia juga berpeluang menembus divisi-divisi yang membuat laga besar menjadi hal biasa.
Setelah berhasil menemukan klub lewat cara yang tidak biasa, Beimers berharap perjalanannya bisa menginspirasi pemain muda lain. Ia ingin menunjukkan bahwa ketika peluang tidak datang, seseorang harus menciptakannya sendiri. Ia juga ingin jujur bahwa prosesnya tidak mudah, termasuk saat merasa kesepian, tetapi hal-hal yang benar-benar diinginkan dalam hidup memang jarang diraih dengan cara instan.
Bagi Beimers, langkahnya ke Viterbese menjadi bukti bahwa jalan alternatif bisa membuka pintu yang tidak terlihat lewat rute konvensional. Keputusan meninggalkan kenyamanan, menempuh 2.000 mil di jalan, dan hidup di dalam van berujung pada kontrak profesional di Italia. Kisah itu sekaligus mengingatkan bahwa di balik setiap perpindahan klub, ada perjuangan, ketidakpastian, dan dukungan orang-orang terdekat yang jarang terlihat dari luar.
