Presiden FIGC Giovanni Malago menegaskan bahwa timnas Italia tidak boleh menetapkan target sebatas lolos ke Piala Dunia. Menurutnya, ambisi Azzurri harus melampaui itu jika Italia ingin kembali ke puncak sepak bola dunia. Pernyataan tersebut ia sampaikan di tengah masa transisi besar yang sedang dijalani federasi maupun skuad nasional.
Malago berbicara dalam program La Politica nel Pallone, sebagaimana dikutip oleh jurnalis Gianluca Di Marzio. Komentarnya muncul setelah enam bulan penuh perubahan di tubuh timnas Italia, mulai dari mundurnya pelatih hingga pergantian orang nomor satu di federasi. Situasi ini membuat arah kebijakan Italia ke depan jadi sorotan, terutama karena kualifikasi Piala Dunia selalu menjadi ukuran keberhasilan paling dasar bagi sebuah negara dengan tradisi sepak bola sebesar Italia.
Malago Tegaskan Target Timnas Italia Lebih Besar
Bagi Malago, kegagalan Italia dalam beberapa edisi terakhir bukan sekadar soal gagal lolos atau tidak. Ia mengingatkan bahwa Italia sudah sangat lama absen dari laga fase gugur Piala Dunia. Terakhir kali mereka bermain di babak gugur adalah pada 2006, tepatnya ketika melakoni partai final melawan Prancis.
“Kami belum pernah memainkan laga fase gugur di Piala Dunia sejak bermain di final melawan Prancis pada 2006,” ujar Malago seperti dikutip dari pernyataannya. Angka itu menggambarkan betapa dalamnya kemunduran Italia di level turnamen dunia, meski secara umum mereka masih dianggap sebagai salah satu kekuatan sepak bola Eropa.
Karena itu, ia menilai target minimum berupa keikutsertaan di Piala Dunia tidak cukup. Menurut Malago, Italia perlu menyiapkan fondasi jangka panjang agar tidak terus-menerus terjebak dalam siklus kekecewaan. Ia menyebut pembinaan pemain muda sebagai salah satu kunci utama untuk keluar dari situasi tersebut.
“Italia tidak boleh membatasi diri hanya pada kualifikasi. Kami perlu melihat ke depan, dan untuk itu kami harus membangun jalur bagi para pemain muda,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa tim yang kuat dan pemulihan kepercayaan diri para pemain harus menjadi prioritas setelah rangkaian hasil buruk yang terjadi.
Kronologi: Tiga Kali Berturut-turut Gagal di Kualifikasi
Tekanan terhadap federasi sebenarnya sudah menumpuk sejak lama. Italia disebut gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun, dan itu menjadi pemicu utama gelombang perubahan di tubuh organisasi. Situasi tersebut berujung pada mundurnya dua nama penting dari posisi mereka masing-masing.
Gennaro Gattuso meninggalkan kursi pelatih kepala, sementara Gabriele Gravina yang sebelumnya menjabat sebagai pendahulu Malago juga mengundurkan diri. Pergantian ini menandai babak baru bagi FIGC, karena kepemimpinan federasi dan kursi pelatih berubah dalam waktu yang relatif bersamaan. Artinya, hampir seluruh struktur teknis dan administratif harus dibangun ulang dari awal.
Kini Italia dipimpin kembali oleh Roberto Mancini, yang menjalani periode keduanya bersama Azzurri. Pada masa jabatan pertamanya, Mancini membawa Italia menjuarai Euro 2020, sebuah prestasi yang menunjukkan bahwa ia pernah tahu cara membangun tim nasional yang kompetitif. Untuk melengkapinya, Claudio Ranieri dipercaya mengisi posisi direktur teknik.
Perbedaan performa di dua ajang berbeda cukup mencolok. Di Piala Eropa, Italia cenderung tampil lebih baik dan bahkan pernah juara, tetapi di jalur Piala Dunia mereka tersandung di babak play-off pada edisi 2018, 2022, dan 2026. Pola ini menunjukkan masalah Italia bukan semata soal kualitas pemain, melainkan juga soal kemampuan melewati laga-laga krusial bertekanan tinggi.
Implikasi: Membangun Jalur Pemain Muda dan Memulihkan Mental
Pernyataan Malago menyiratkan bahwa mandat untuk Mancini tidak berhenti pada lolos ke Piala Dunia. Ada tuntutan untuk membangun kerangka kerja yang berkelanjutan, mulai dari pembinaan usia muda hingga penataan staf kepelatihan. Ia menyadari bahwa hasil akhir bergantung pada banyak faktor yang tidak selalu bisa dikendalikan, termasuk undian dan kondisi pemain.
“Saya sadar betul bahwa kami bergantung pada seribu variabel, tetapi kami tidak boleh berada dalam situasi di mana satu insiden bisa memicu krisis pahit berikutnya,” kata Malago. Pernyataan ini menyoroti kerentanan Italia, di mana satu kekalahan atau satu laga play-off bisa meruntuhkan seluruh kepercayaan yang sudah dibangun.
Di sisi staf, perombakan juga terlihat dari pengumuman resmi akun timnas Italia yang menyebutkan nama-nama pendukung Mancini. Oriali ditunjuk sebagai Team Manager, sementara Bollini masuk sebagai asisten pelatih. Komposisi ini memperlihatkan upaya menyusun tim kerja yang solid untuk mendampingi Mancini di periode keduanya.
Malago juga menyinggung soal budaya akuntabilitas di level federasi. Ia menyebut ada aturan tak tertulis bagi para presiden federasi, meski ia sendiri tidak yakin apakah aturan itu sepenuhnya tepat.
“Jika seseorang gagal mencapai target minimum, yaitu keikutsertaan di Piala Dunia, sudah sepantasnya apa yang dilakukan kolega saya sebelumnya dihormati,” ujarnya. Kalimat ini secara implisit mengakui besarnya risiko yang ia hadapi jika Italia kembali gagal di jalur kualifikasi.
Apa Selanjutnya: Nations League dan Rangkaian Laga Berat
Fokus Italia dalam waktu dekat adalah ajang Nations League. Skuad untuk laga-laga mendatang dijadwalkan diumumkan pada pekan ini, bersamaan dengan persiapan Mancini menyongsong pertandingan pertamanya di periode kedua. Momen tersebut akan menjadi ujian awal bagi staf baru yang baru saja dikukuhkan.
Belgia menjadi lawan pertama yang akan dihadapi Italia pada 25 September. Setelah itu, Italia memainkan dua laga melawan Turkiye, satu di kandang dan satu di tandang, yang mengapit pertemuan dengan Prancis. Semuanya berlangsung dalam rentang jeda internasional yang diperpanjang.
Deretan lawan ini bukan ujian ringan. Belgia, Prancis, dan Turkiye sama-sama punya kualitas untuk merepotkan Italia, sehingga rangkaian pertandingan tersebut bisa menjadi indikator seberapa jauh kemajuan proyek baru Mancini. Hasilnya pun berpotensi memengaruhi suasana kepercayaan diri tim menjelang kompetisi resmi berikutnya.
Konteks Lebih Luas: Standar Italia di Eropa dan Piala Dunia
Kasus Italia memperlihatkan adanya jurang antara performa di Piala Eropa dan Piala Dunia. Turnamen Eropa digelar lebih sering dan dengan jumlah peserta yang lebih terbatas, sementara Piala Dunia menuntut konsistensi panjang sejak fase kualifikasi. Italia beberapa kali mampu bersinar di level Eropa, tetapi gagal menerjemahkan kemampuan itu di jalur global.
Ketidakseimbangan ini juga menjadi pengingat bahwa pergantian pelatih saja tidak cukup menyelesaikan masalah. Perlu ada perbaikan sistemik, terutama pada pengelolaan pemain muda dan keberlanjutan regenerasi skuad. Tanpa itu, Italia berisiko terus bergantung pada hasil jangka pendek yang rapuh terhadap satu-dua laga krusial.
Apa yang disampaikan Malago sejalan dengan tren di banyak federasi besar yang mulai menempatkan pembinaan sebagai bagian dari target kepelatihan. Pendekatan seperti ini memang membutuhkan waktu dan kesabaran, karena hasilnya jarang terlihat dalam satu atau dua tahun. Namun, itulah harga yang harus dibayar jika Italia ingin keluar dari pola kegagalan yang berulang.
Rangkaian laga pada jeda internasional mendatang akan menjadi penanda awal, apakah arah baru ini mulai berjalan sesuai rencana atau justru menambah panjang daftar masalah. Publik Italia tentu menunggu bukti, bukan hanya pernyataan.
Penutup
Pernyataan Giovanni Malago menempatkan timnas Italia pada target yang lebih tinggi daripada sekadar lolos Piala Dunia. Ia ingin pembangunan berkelanjutan, pembinaan pemain muda, dan pemulihan mental para pemain, sembari menegaskan bahwa kegagalan memenuhi target minimum memiliki konsekuensi yang tidak bisa diabaikan.
Dengan Mancini kembali memimpin dan Ranieri mendampingi di posisi direktur teknik, Italia kini memiliki kombinasi pengalaman yang cukup untuk merancang langkah berikutnya. Ujian terdekat adalah Nations League, dengan Belgia, Turkiye, dan Prancis sebagai lawan yang menuntut penampilan terbaik. Bagaimana Italia melaluinya akan memberi gambaran awal, apakah ambisi besar Malago punya dasar yang kuat atau masih sekadar wacana.
