Leverkusen kalah dari Stuttgart dengan skor 4-2 di BayArena pada laga Bundesliga akhir pekan, dan Carles Martinez menilai hasil itu terlalu tinggi untuk jalannya pertandingan. Kekalahan ini menjadi yang kedua beruntun bagi Bayer Leverkusen setelah sebelumnya tumbang 0-3 di markas Hoffenheim. Martinez menyebut skor akhir tidak sepenuhnya mencerminkan pertandingan terbuka yang ia saksikan.
Hasil tersebut penting karena Leverkusen sedang mengejar konsistensi di Bundesliga sekaligus menyiapkan diri untuk agenda Liga Europa. Stuttgart datang sebagai tim tamu, tetapi tampil efisien dan mampu menjauhkan selisih gol sebelum pertandingan memasuki fase akhir. Bagi Martinez, kekalahan dengan margin dua gol terasa tidak adil, meski ia mengakui ada banyak hal positif yang bisa diambil dari permainan timnya.
Jalannya Laga: Stuttgart Efisien, Leverkusen Tertinggal Jauh
Stuttgart membuka jalan kemenangan lewat dua gol Ermedin Demirovic, lalu Jamie Leweling dan Bilal El Khannouss ikut mencatatkan nama di papan skor. Leverkusen sempat memberi respons melalui Patrik Schick dan Ibrahim Maza, tetapi kedudukan 4-1 bagi tim tamu pada menit ke-65 membuat tuan rumah harus mengejar tiga gol. Skor akhir 4-2 memastikan Stuttgart pulang dengan tiga poin dari BayArena.
Secara statistik, kedua tim sebenarnya melampaui angka expected goals atau xG masing-masing. Leverkusen mencatat 1,8 xG, sedangkan Stuttgart 2,6 xG, sehingga hasil akhir tidak hanya soal dominasi penguasaan bola. Stuttgart lebih tajam saat peluang datang, sementara Leverkusen tidak mampu mengubah sejumlah kesempatan menjadi gol tambahan. Efisiensi di depan gawang itulah yang membuat selisih skor terlihat lebih lebar.
Bagi Leverkusen, laga ini menjadi pengulangan masalah yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Dalam 43 pertandingan Bundesliga terakhir, mereka hanya dua kali kebobolan lebih dari tiga gol, dan keduanya terjadi di kandang melawan Stuttgart. Selain kekalahan 2-4 kali ini, ada pula kekalahan 1-4 pada Januari, yang menunjukkan Stuttgart memang punya pola efektif saat menghadapi Leverkusen di BayArena. Catatan itu mempertegas bahwa hasil akhir bukan sekadar kebetulan, melainkan buah dari cara Stuttgart memanfaatkan peluang.
Martinez: Skor 4-2 Terlalu Tinggi untuk Pertandingan Terbuka
Dalam konferensi pers setelah pertandingan, Martinez menyampaikan pandangannya bahwa skor akhir terlalu besar dibandingkan jalannya laga. Ia menilai pertandingan berlangsung terbuka dan Leverkusen memiliki peluang untuk mencetak lebih dari satu gol, terutama di babak pertama. Menurutnya, hasil tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kualitas permainan yang ditampilkan anak asuhnya.
Martinez juga menyebut ada banyak aspek dari timnya yang membuatnya puas. Meski begitu, ia tetap menekankan kebutuhan untuk memperbaiki diri agar Leverkusen bisa memenangi pertandingan dengan karakter serupa. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ia tidak ingin hasil buruk menutupi hal-hal positif, tetapi juga tidak ingin tim berpuas diri.
Setelah kekalahan ini, fokus Martinez langsung beralih ke pemulihan agar tim bisa tampil lebih baik pada pertandingan Kamis berikutnya. Ia menegaskan Leverkusen perlu segera bangkit dan memperbaiki detail permainan yang belum optimal. Dengan jadwal yang berjalan cepat, kemampuan merespons kekalahan akan menjadi ujian penting bagi stabilitas tim.
Dampak Leverkusen Kalah dari Stuttgart: Rekor dan Tekanan Meningkat
Kekalahan dari Stuttgart membuat Leverkusen mengumpulkan 13 poin dari delapan pekan Bundesliga, catatan start terburuk mereka dalam empat tahun. Sebagai perbandingan, pada musim 2022-23 mereka hanya mengumpulkan lima poin pada periode yang sama. Angka ini menjadi sinyal bahwa Leverkusen masih mencari keseimbangan antara hasil dan performa di bawah Martinez.
Laga tersebut juga menjadi kekalahan kandang pertama Leverkusen di Bundesliga di bawah Martinez, setelah sebelumnya mencatat tiga kemenangan. Rekor kandang yang sebelumnya terjaga kini mendapat tekanan, terutama karena Stuttgart mampu mencetak empat gol di BayArena. Bagi tim yang ingin bersaing di papan atas, konsistensi di kandang menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Dari sisi pertahanan, Leverkusen kebobolan sembilan gol dalam tiga pertandingan terakhir di semua kompetisi, termasuk kemenangan 5-2 atas Nurnberg di DFB-Pokal. Jumlah itu sama dengan total kebobolan mereka pada 10 pertandingan pertama musim 2026-27. Data tersebut menegaskan bahwa masalah utama bukan hanya soal hasil, tetapi juga efektivitas lini belakang dalam menahan serangan lawan.
Andrich: Mentalitas dan Perjuangan Tim Tidak Bisa Disalahkan
Gelandang Robert Andrich sependapat dengan Martinez bahwa Leverkusen sudah menunjukkan usaha maksimal. Ia menyebut pertandingan berlangsung seperti pertarungan sengit dan terasa betapa besar taruhannya. Menurut Andrich, tim telah berjuang di setiap duel, meski pada akhirnya tidak mampu meraih kemenangan.
Andrich menegaskan bahwa Leverkusen sangat bertekad untuk menang dan tidak ada yang bisa disesali dari sisi mentalitas maupun determinasi. Pernyataan itu memberi gambaran bahwa masalah tim lebih berkaitan dengan eksekusi dan efisiensi, bukan kurangnya kemauan. Dalam situasi seperti ini, pemain seperti Andrich punya peran penting untuk menjaga suasana ruang ganti tetap stabil.
Leverkusen berikutnya akan menghadapi Marseille di Liga Europa, kompetisi yang sejauh musim ini berjalan positif bagi mereka. Mereka telah memenangi tiga pertandingan di kompetisi tersebut, sehingga laga Kamis menjadi kesempatan untuk mengalihkan fokus dari tekanan di Bundesliga. Jika mampu tampil lebih klinis, Leverkusen bisa menggunakan ajang Eropa sebagai momentum pemulihan.
Konteks Lebih Luas: Ujian Konsistensi di Tengah Jadwal Padat
Kekalahan beruntun ini memperlihatkan bahwa Leverkusen masih rentan ketika menghadapi tim yang efisien dalam memanfaatkan peluang. Di satu sisi, mereka mampu menciptakan peluang dan mencetak dua gol; di sisi lain, mereka terlalu mudah kehilangan kendali saat lawan mencetak gol cepat. Kombinasi itu membuat hasil di Bundesliga menjadi tidak stabil.
Bagi Stuttgart, kemenangan di BayArena menjadi bukti bahwa mereka bisa tampil efektif meski tidak selalu mendominasi. Mereka mencetak empat gol dari 2,6 xG, angka yang menunjukkan penyelesaian akhir yang baik. Hasil ini juga memperkuat pola bahwa Stuttgart punya cara tersendiri untuk menyulitkan Leverkusen di kandang.
Ke depan, tantangan terbesar Leverkusen adalah menjaga keseimbangan antara kompetisi domestik dan Eropa. Jadwal padat menuntut rotasi, pemulihan, dan ketajaman yang konsisten. Jika masalah kebobolan bisa ditekan, modal tiga kemenangan di Liga Europa dapat menjadi pijakan untuk kembali ke jalur kemenangan.
Secara keseluruhan, Leverkusen kalah dari Stuttgart bukan hanya karena masalah mentalitas, tetapi juga karena efisiensi lawan dan lemahnya penyelesaian akhir pada momen-momen penting. Martinez menilai skor 4-2 terlalu tinggi, sementara Andrich menegaskan tim sudah berjuang maksimal. Kedua pernyataan itu menunjukkan bahwa Leverkusen perlu memperbaiki detail teknis tanpa kehilangan semangat bertanding.
Laga melawan Marseille di Liga Europa menjadi kesempatan berikutnya untuk membuktikan respons tim. Dengan tiga kemenangan yang sudah diraih di kompetisi tersebut, Leverkusen punya modal untuk bangkit. Namun, jika masalah kebobolan dan konsistensi tidak segera dibenahi, tekanan di Bundesliga bisa terus meningkat.
