Krisis Manchester United kian memburuk, dan Harry Maguire menegaskan bahwa para pemainlah yang harus lebih dulu bercermin serta menanggung tanggung jawab atas rentetan hasil buruk, bukan melemparkan seluruh kesalahan kepada Michael Carrick. Pernyataan itu muncul setelah Setan Merah dipermalukan Bournemouth 3-0 di Old Trafford pada Minggu. Kapten tim, Bruno Fernandes, bahkan hanya menonton dari bangku cadangan dalam laga tersebut.
Situasi ini menjadi sorotan karena United kini menapaki salah satu periode terburuk dalam satu dekade terakhir, dengan delapan pertandingan beruntun tanpa kemenangan di semua kompetisi. Tekanan terhadap Carrick pun membesar, terlebih setelah Fernandes secara terbuka mengkritik taktik sang manajer. Di tengah situasi itu, Maguire memilih berbicara tentang keharusan pemain melakukan introspeksi ketimbang mencari kambing hitam di kursi pelatih.
Kekalahan 3-0 dari Bournemouth yang Membuka Semua Borok
Kekalahan di hadapan pendukung sendiri terjadi lewat pertunjukan penuh kesalahan. Gol pembuka Bournemouth lahir ketika Rayan berdiri tanpa penjagaan sama sekali di dalam kotak penalti, sehingga ia bisa menyelesaikan peluang dengan mudah. Kesalahan itu bukan satu-satunya, karena Leny Yoro kemudian terpeleset dan membuka jalan bagi Marcus Tavernier untuk menceploskan bola menjadi 2-0.
Petaka ketiga datang dari keputusan yang terburu-buru. Senne Lammens meninggalkan garis gawangnya terlalu jauh dan gagal mengantisipasi situasi, sehingga Evanilson dengan tenang menaklukkan kiper tersebut pada babak kedua. Tiga gol itu merangkum masalah yang sama sepanjang musim: kesalahan individu yang berujung pada hukuman fatal.
Hasil tersebut membuat United mencatat delapan laga tanpa kemenangan di semua kompetisi, dengan rincian tiga imbang dan lima kalah. Ini adalah rentetan terburuk mereka sejak Desember 2015. Yang lebih menyakitkan, sepanjang musim 2025-26 United sama sekali tidak pernah kalah dua kali beruntun, tetapi dalam periode buruk kali ini mereka sudah mengalaminya dua kali.
Statistik lain mempertegas rapuhnya pertahanan di Old Trafford. Sejak awal musim 2023-24, tidak ada tim Premier League yang kalah lebih sering di kandang dengan selisih minimal tiga gol di semua kompetisi selain United, yakni sebanyak tujuh kali. Angka itu menunjukkan bahwa kekalahan telak bukan lagi kecelakaan, melainkan pola yang berulang.
Kronologi Krisis Manchester United Sejak Awal Musim
Jika dilihat dari perolehan poin, posisi United memang sangat memprihatinkan. Tujuh poin dari delapan pertandingan menjadikannya sebagai start terburuk klub di kompetisi liga sejak musim 1986-87, ketika mereka hanya mengumpulkan empat poin dari tujuh laga. Catatan itu menempatkan krisis saat ini sejajar dengan periode paling kelam dalam sejarah panjang klub.
Ketegangan di dalam ruang ganti turut mewarnai situasi. Fernandes, yang biasanya menjadi penggerak utama, menyampaikan kritik terbuka terhadap pendekatan taktis Carrick, dan pada laga melawan Bournemouth ia hanya duduk di bangku cadangan. Keputusan itu menambah spekulasi mengenai retaknya hubungan antara pemain senior dan staf pelatih.
Namun Maguire menolak membuka terlalu banyak hal ke publik. Saat ditanya apakah para pemain akan menggelar pertemuan internal untuk membahas kondisi tim, ia menegaskan bahwa jika percakapan semacam itu terjadi, isinya akan tetap menjadi urusan privat di dalam tim. Menurutnya, yang terpenting bukan siapa yang bicara kepada siapa, melainkan kemauan setiap pemain memperbaiki penampilan masing-masing.
Suara Maguire: “Sesuatu Harus Berubah”
Berbicara kepada Sky Sports, Maguire tidak berusaha mencari pembelaan atas performa tim. Ia menyebut hasil melawan Bournemouth jauh dari standar yang seharusnya, terutama karena United sudah kebobolan sejak awal laga, lagi-lagi dari situasi bola mati, yang menurutnya membuat pertandingan di Premier League menjadi jauh lebih sulit.
Ia juga menyoroti kesalahan menjelang gol kedua yang membuat tim menyulitkan diri sendiri. Menurutnya, secara individu maupun kolektif, para pemain tidak tampil cukup baik dan karena itu tidak layak mendapatkan apa pun dari pertandingan tersebut. Ia menambahkan bahwa saat ini tim seperti kehilangan koneksi, baik dalam hal hasil maupun performa selama sepekan terakhir.
Meski begitu, bek tengah timnas Inggris itu menolak menjadikan usia musim sebagai alasan untuk panik berlebihan. Ia mengajak rekan-rekannya mempertanyakan diri sendiri, bercermin, dan memikirkan kontribusi apa lagi yang bisa diberikan kepada tim. Baginya, langkah pertama menuju perbaikan adalah kesadaran bahwa sesuatu memang harus berubah, karena sebagai pemain mereka belum berbuat cukup untuk klub sebesar Manchester United.
Maguire juga menegaskan bahwa Carrick bukan pihak yang pantas disalahkan atas semuanya. Ia mengingatkan bahwa pada musim sebelumnya Carrick berhasil membalikkan arah musim tim dan mengantar United tampil brilian dengan hasil yang juga brilian, sementara pada musim ini justru para pemain yang gagal mempertahankan standar tersebut.
Tekanan pada Carrick dan Seruan Jamie Carragher
Di luar lapangan, tekanan terhadap Carrick meningkat tajam. Mantan bek Liverpool yang kini menjadi pengamat Sky Sports, Jamie Carragher, menilai United perlu mengambil keputusan besar malam itu juga. Menurutnya, perubahan harus dilakukan bukan hanya demi kebaikan klub, tetapi juga demi kebaikan Carrick sendiri, karena melihat sang manajer berjalan seorang diri mengelilingi stadion di akhir pertandingan jelas bukan pemandangan yang menyenangkan.
Carragher memahami mengapa sebagian besar pendukung memihak Carrick. Ia menilai hal itu terjadi bukan semata karena posisi Carrick sebagai manajer, melainkan karena statusnya sebagai sosok penting dalam sejarah United. Karena itu, dalam benturan antara Carrick dan Fernandes, Carragher menilai publik akan selalu memilih Carrick, dan menurutnya itu keputusan yang wajar terlepas dari seberapa berbakat sang kapten.
Namun ia juga mengingatkan realitas yang tidak bisa diabaikan. Manchester United adalah salah satu klub terbesar di dunia, dan berada di posisi ke-16 Premier League saat ini adalah keadaan yang tidak mungkin dibiarkan berlarut-larut. Bagi Carragher, kombinasi antara hasil buruk, performa yang menurun, dan posisi klasemen yang mengkhawatirkan sudah cukup menjadi alasan untuk segera melakukan perubahan di kursi pelatih.
Apa Artinya bagi Masa Depan United
Perdebatan yang muncul sekarang adalah soal siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab. Maguire menempatkan beban di pundak para pemain, sementara Carragher menilai pergantian pelatih sebagai jalan keluar yang paling realistis. Dua pandangan ini mencerminkan dilema klasik di klub besar: apakah masalahnya terletak pada kualitas dan mentalitas skuad, atau pada cara pelatih merancang dan menyampaikan ide permainan.
Yang jelas, sejumlah angka tidak bisa dibantah. Delapan laga tanpa kemenangan, dua kali kalah beruntun, dan tujuh kekalahan kandang dengan selisih tiga gol atau lebih sejak 2023-24 menunjukkan masalah struktural yang tidak selesai hanya dengan satu kemenangan. Bagi para pemain, termasuk Maguire, ujian berikutnya adalah membuktikan bahwa pernyataan tentang introspeksi benar-benar berujung pada perubahan di lapangan, bukan sekadar kalimat penghibur setelah kekalahan.
Bagi Carrick, situasi ini menempatkannya pada posisi yang sulit. Reputasinya sebagai figur penting dalam sejarah klub memberi perlindungan dari kemarahan suporter, tetapi perlindungan itu tidak akan bertahan selamanya jika hasil terus memburuk. Sejarah menunjukkan bahwa klub-klub besar biasanya bergerak cepat ketika posisi di klasemen mulai mendekati zona berbahaya, dan tekanan publik sering menjadi pemicu utama keputusan tersebut.
Kesimpulan
Kekalahan 3-0 dari Bournemouth meninggalkan luka baru bagi Manchester United dan memperpanjang rentetan delapan laga tanpa kemenangan, sebuah catatan yang belum pernah terjadi sejak Desember 2015. Maguire memilih menanggung beban bersama rekan-rekannya, menegaskan bahwa para pemain harus bercermin dan menyadari bahwa sesuatu di dalam tim memang harus berubah. Ia juga membela Carrick dengan mengingatkan peran sang manajer dalam membalikkan musim sebelumnya.
Namun seruan Carragher menunjukkan bahwa tidak semua pihak melihat persoalan dengan cara yang sama. Dengan posisi di papan bawah, start terburuk sejak 1986-87, dan ketegangan yang muncul ke permukaan, United berada di persimpangan yang menentukan arah musim mereka. Pertanyaan besarnya sederhana: apakah perubahan yang dimaksud Maguire akan datang dari dalam ruang ganti, atau justru dari kursi pelatih?
