Berita Bola

Apakah Era Big Six Premier League Segera Berakhir?

Selama bertahun-tahun, Premier League identik dengan era Big Six—enam klub yang mendominasi papan atas, punya basis penggemar terbesar, dan kekuatan finansial paling besar. Namun, sejumlah tanda dalam beberapa musim terakhir menunjukkan dominasi itu tidak lagi sekukuh dulu. Tottenham Hotspur dan Manchester United sempat berkutat di papan bawah, sementara Aston Villa, Brentford, dan Brighton justru bersaing di posisi atas.

Big Six sendiri terdiri dari Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham. Mereka bukan hanya sering finis di posisi elite, tetapi juga menjadi klub dengan pendapatan terbesar di dunia. City, Arsenal, United, Liverpool, Spurs, dan Chelsea semuanya masuk 10 besar klub dengan pendapatan tertinggi di sepak bola dunia. Meski secara finansial masih perkasa, pertanyaan besarnya: apakah era Big Six Premier League di atas lapangan sudah benar-benar berakhir?

Fakta Terbaru: Peta Kekuatan di Papan Atas Mulai Berubah

Perubahan paling kentara terlihat dari performa beberapa anggota Big Six. Tottenham menjadi contoh paling mencolok: mereka mengakhiri dua musim terakhir hanya satu posisi di atas zona degradasi. Pada musim yang sedang berjalan, Spurs bahkan berada di posisi kedua dari bawah dengan tiga poin setelah gagal menang dalam enam laga pertama. Situasi ini sangat jauh dari gambaran klub yang biasa bersaing di empat besar.

Manchester United juga belum menemukan konsistensi. Mereka saat ini berada di peringkat 13, sementara Liverpool di posisi kesembilan. Sejak musim 2021-22, Chelsea dan United masing-masing dua kali finis di luar enam besar, sedangkan Spurs tiga kali absen dari zona itu dan dua di antaranya finis di peringkat 17. Data ini menunjukkan bahwa keenam klub tradisional tidak lagi otomatis menguasai papan atas.

Di sisi lain, Manchester City—klub yang paling dominan dalam satu dekade terakhir—kini menghadapi ketidakpastian. City baru-baru ini dinyatakan bersalah melanggar aturan finansial selama sembilan tahun. Kabar ini menambah kompleksitas lanskap kompetisi, karena salah satu kekuatan utama Big Six sedang berada dalam sorotan. Meski demikian, secara finansial mereka masih termasuk jajaran klub terkaya dunia.

Dari Kisah Leicester hingga Era Big Six Premier League yang Retak

Salah satu momen paling fenomenal dalam sejarah Premier League adalah ketika Leicester City menjuarai liga pada musim 2015-16. Kisah itu begitu memikat karena sebelumnya nyaris mustahil bagi klub di luar Big Six untuk mendekati gelar. Setelah kejutan Leicester, banyak yang mengira itu hanya sekali terjadi. Terbukti, dalam tiga musim berikutnya, Big Six kembali mengunci posisi-posisi teratas.

Jarak antara Big Six dan klub lain saat itu bahkan semakin melebar. Selisih terkecil antara peringkat ketujuh dan keenam dalam tiga musim tersebut mencapai delapan poin. Antara 2010-11 dan 2018-19, keenam klub itu finis di posisi teratas sebanyak lima kali, di tujuh besar dua kali, dan di delapan besar sekali. Dominasi mereka terlihat nyaris tanpa celah.

Namun, setelah periode itu, keadaan berubah. Hanya dalam satu dari enam musim terakhir semua anggota Big Six finis di enam besar. Aston Villa, Newcastle, dan Brighton setidaknya pernah mengisi posisi-posisi tersebut. Dalam tiga tahun terakhir, lima tempat di enam besar telah diisi klub di luar enam tradisional, jumlah yang sama dengan total delapan tahun sebelumnya. Ini menegaskan bahwa era Big Six Premier League tidak lagi sekuat dulu.

Klub Lain Semakin Kaya dan Cerdas

Salah satu penyebab utama retaknya dominasi kolektif Big Six adalah klub-klub pesaing yang berhasil menutup jarak finansial. Newcastle menjadi contoh setelah diambil alih pada 2021 oleh konsorsium yang dipimpin Saudi Arabia Public Investment Fund dengan nilai £305 juta. Dampaknya langsung terasa: mereka naik dari peringkat 11 pada 2021-22 ke posisi keempat pada musim berikutnya, lalu finis kelima dua musim kemudian.

Klub seperti Brighton memilih jalur berbeda, yakni mengandalkan data dan rekrutmen cerdas. Brighton punya rekam jejak mengesankan dalam membeli pemain muda berbakat dengan harga murah lalu menjualnya dengan keuntungan besar. Pada 2021, mereka merekrut gelandang Ekuador berusia 19 tahun, Moises Caicedo, dari Independiente del Valle seharga £4 juta. Dua tahun kemudian, Caicedo dijual ke Chelsea dengan nilai kesepakatan £115 juta—rekor Inggris saat itu.

Brighton juga membeli Marc Cucurella seharga £15 juta dan menjualnya ke Chelsea senilai £62 juta. Mereka mendatangkan Alexis Mac Allister seharga £7 juta sebelum dilepas ke Liverpool dengan nilai kesepakatan £55 juta. Direktur olahraga Brighton, Mike Cave, menjelaskan bahwa strategi ini dibangun dalam jangka panjang. “Elemen data mendapat banyak perhatian karena beberapa tahun lalu itu cukup baru dibandingkan klub lain,” kata Cave kepada BBC Radio 5 Live Football Daily. “Sebenarnya itu hanya salah satu komponen dari proses lebih besar. Ini komponen penting, membantu kami mengidentifikasi talenta dari seluruh dunia dengan cukup efisien sehingga kami bisa bergerak cepat di pasar transfer yang sangat kompetitif.”

Kontinuitas Pelatih Jadi Pembeda

Faktor lain yang membuat sebagian anggota Big Six tertinggal adalah ketidakstabilan di kursi pelatih. Sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013, Manchester United kesulitan mendekati kesuksesan yang mereka nikmati selama 26 tahun di bawah asuhan pria Skotlandia itu. Klub yang 20 kali juara liga tersebut berganti pelatih permanen sebanyak empat kali sejak awal musim 2020-21 demi mencari formula yang tepat.

Chelsea bahkan lebih sering berganti. Pada periode yang sama, mereka memiliki tujuh orang berbeda yang menangani tim secara permanen. Tottenham tidak jauh berbeda dengan enam pelatih permanen karena juga berusaha menemukan cara untuk kembali bersaing memperebutkan trofi. Pergantian yang terlalu sering membuat proses membangun tim dan identitas permainan menjadi terputus.

Sebaliknya, Arsenal menunjukkan bahwa kesabaran bisa membuahkan hasil. Mikel Arteta ditunjuk pada 2019 dan diberi waktu untuk membangun skuad. Hasilnya, Arsenal mengakhiri penantian 22 tahun untuk kembali menjuarai Premier League pada musim lalu. Contoh ini menegaskan bahwa stabilitas pelatih, arah permainan, dan rekrutmen yang konsisten bisa menjadi pembeda antara klub yang terus tertinggal dan klub yang kembali berjaya.

Big Six Premier League Bukan Sesuatu yang Abadi

Istilah Big Six sebenarnya bukan hal yang selalu ada dalam Premier League. Ketika liga pertama kali dibentuk pada 1992, yang dikenal adalah Big Five: Arsenal, Everton, Liverpool, Manchester United, dan Tottenham. Kelima klub itu dianggap memiliki basis penggemar terbesar dan kekuatan finansial paling besar pada masa itu. Seiring waktu, komposisinya berubah menjadi Big Two pada akhir 1990-an dan awal 2000-an ketika Manchester United dan Arsenal mendominasi.

Setelah itu, konsepnya berkembang menjadi Big Four seiring Chelsea dan Liverpool rutin finis di empat besar. Musim 2010-11 adalah pertama kalinya dalam sejarah liga Inggris enam posisi teratas diisi Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham. Susunan itu terulang pada 2014-15, 2016-17, 2017-18, dan 2018-19, sehingga istilah Big Six semakin mengakar. Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa lanskap kekuatan bisa berubah.

Pada 1960-an, divisi teratas Inggris disebut-sebut sebagai salah satu yang paling terbuka. Saat itu, Burnley, Tottenham, Ipswich, Everton, Liverpool, Manchester United, Manchester City, dan Leeds semuanya pernah menjuarai liga. Kini, meski juara Premier League masih cenderung datang dari salah satu anggota Big Six, gagasan bahwa enam besar selalu diisi klub yang sama mulai memudar. Sudah empat tahun sejak keenam klub itu finis bersama-sama di posisi enam besar. Brighton, Brentford, dan Everton kini menghuni area enam besar, dan meski musim masih panjang, papan atas liga terasa semerbuka sebelumnya. Bagi banyak penggemar, itu justru perkembangan yang positif.

Era Big Six Premier League memang belum sepenuhnya hilang, terutama jika melihat kekuatan finansial keenam klub. Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham masih termasuk klub dengan pendapatan terbesar di dunia. Namun, di atas lapangan, dominasi mereka tidak lagi absolut. Tottenham dan Manchester United bergulat dengan inkonsistensi, City menghadapi masalah aturan finansial, sementara klub seperti Newcastle, Brighton, Aston Villa, Brentford, dan Everton mulai menembus papan atas.

Perubahan ini terjadi karena pesaing mampu menutup jarak finansial, memanfaatkan data dan rekrutmen cerdas, serta menjaga kontinuitas pelatih. Sejarah Premier League juga memperlihatkan bahwa komposisi kekuatan selalu berevolusi, dari Big Five, Big Two, Big Four, hingga Big Six. Jika tren ini berlanjut, era Big Six bisa semakin memudar dan liga berpotensi menjadi lebih terbuka—sesuatu yang menarik untuk diikuti musim ini.

Exit mobile version