Berita Bola

Dylan Lawlor Sebut Barry-Murphy dan Bellamy Sangat Mirip

Bek Cardiff sekaligus pemain timnas Wales, Dylan Lawlor, menilai Brian Barry-Murphy dan Craig Bellamy memiliki cara pandang yang nyaris serupa terhadap sepak bola. Menurutnya, kesamaan itu membuatnya tidak kesulitan berpindah antara peran bersama klub dan peran bersama negara. Pemain berusia 20 tahun tersebut mengungkapkan hal ini dalam wawancara dengan podcast berbahasa Wales milik BBC, Y Coridor Ansicrwydd (Corridor of Uncertainty).

Kesamaan pandangan antara dua pelatih yang membesarkan namanya ini menjadi penting karena Lawlor sedang menjalani fase karier yang krusial. Ia menembus tim utama Cardiff di bawah Barry-Murphy, sementara di level internasional ia mendapat kepercayaan langsung dari Bellamy. Dua sosok itu disebutnya sama-sama detail dan sama-sama menekankan permainan berbasis kekuatan sendiri, sebuah pendekatan yang menurut Lawlor sangat cocok dengan karakter permainannya.

Kesamaan Brian Barry-Murphy dan Craig Bellamy di Mata Lawlor

Lawlor menegaskan bahwa bekerja di bawah Barry-Murphy di Cardiff dan di bawah Bellamy di timnas Wales tidak menuntut penyesuaian besar. Ia menyebut keduanya “sangat mirip”, sehingga peralihan dari satu lingkungan ke lingkungan lain terasa ringan. Menurutnya, kedua pelatih melihat sepak bola dengan cara yang sama, bahkan sama dengan cara ia sendiri memandang permainan.

“Mereka sangat detail dan melihat sepak bola dengan cara yang sama, dan jujur saja itu juga cara saya melihatnya,” kata Lawlor. “Itu cocok untuk saya dan mudah untuk berpindah di antara keduanya.”

Pernyataan itu memberi gambaran bahwa kesinambungan gaya kepelatihan menjadi faktor yang membantu seorang pemain muda menjaga performa. Alih-alih harus mempelajari dua sistem yang bertolak belakang, Lawlor cukup menjalankan satu prinsip permainan yang sama di dua kompetisi berbeda. Situasi seperti ini jarang dinikmati pemain muda yang biasanya harus beradaptasi dengan tuntutan taktik yang berbeda-beda di setiap tim.

Pendekatan ala Jürgen Klopp yang Jadi Pegangan

Lawlor menyebut Barry-Murphy dan Bellamy punya pendekatan pertandingan yang mirip dengan mantan pelatih Liverpool, Jürgen Klopp. Ia mengaku hal itu terasa jelas baginya ketika membaca pengalaman bek Liverpool, Andy Robertson. Robertson pernah menyatakan bahwa Klopp lebih fokus memaksimalkan kekuatan tim sendiri, sementara penerusnya, Arne Slot, cenderung terus beradaptasi dengan taktik lawan.

“Hal yang paling membuka mata bagi saya adalah bahwa semuanya tentang kami,” ujar Lawlor. Ia menambahkan bahwa baik di Cardiff maupun di timnas Wales, fokusnya memang tidak pernah bergeser ke kekhawatiran berlebihan terhadap lawan.

Bagi Lawlor, cara berpikir semacam itu membuat pemain masuk ke pertandingan dengan rasa percaya diri penuh. Pemain tidak dijejali terlalu banyak skenario soal apa yang mungkin dilakukan lawan, melainkan didorong untuk mengeksekusi kekuatan sendiri sebaik mungkin. Pendekatan ini sekaligus menjelaskan mengapa ia merasa nyaman di dua tim yang berbeda level kompetisinya.

Kronologi Kepercayaan yang Diterima Lawlor

Nama Lawlor mulai mencuat setelah ia menembus tim Cardiff. Barry-Murphy sendiri baru ditunjuk sebagai pelatih kepala Cardiff pada Juni 2025, menyusul degradasi klub tersebut dari Championship di akhir musim 2024-25. Sebelum itu, Lawlor mencatat debut liganya pada laga terakhir musim tersebut, masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua saat menghadapi Norwich City.

Kesempatan itu datang dari pelatih interim kala itu, Aaron Ramsey. Menariknya, keduanya merupakan alumni sekolah yang sama, Ysgol Cwm Rhymni di Caerphilly County. Lawlor mengaku Ramsey menjadi panutan sekaligus sumber inspirasi sejak ia tumbuh sebagai pemain muda.

“Dia sosok yang bisa saya teladani,” ujar Lawlor tentang Ramsey. Ia menuturkan bahwa Ramsey kerap memberikan masukan serta tips yang bisa langsung ditambahkan ke dalam permainannya. Menurut Lawlor, ketika nasihat itu datang dari pemain sekaliber Ramsey, seorang pemain muda tidak punya alasan untuk mengabaikannya.

Dari jalur tersebut, kepercayaan dari Bellamy menyusul belakangan. Lawlor menerima penampilan pertamanya untuk timnas senior Wales pada September 2025. Dalam kurun satu tahun, ia sudah mengumpulkan enam penampilan bersama skuad Wales, capaian yang cukup signifikan bagi pemain yang baru berusia 20 tahun.

Dampak Cedera Lutut pada Musim Lawlor

Perjalanan Lawlor tidak sepenuhnya mulus. Ia melewatkan masa pramusim dan awal kiprah Cardiff di Championship akibat cedera lutut yang dialaminya saat membela Wales melawan Ghana pada Juni. Cedera itu membuatnya harus menunggu cukup lama sebelum kembali ke lapangan.

Ia akhirnya kembali tampil sebagai pemain pengganti dalam kemenangan Cardiff atas Charlton di Championship, tepat sebelum jeda internasional terakhir. Namun, waktu pemulihannya terlalu mepet untuk membuatnya ikut serta dalam empat laga Nations League Wales yang digelar setelahnya. Lawlor pun mengakui bahwa saat itu ia memang belum masuk dalam rencana skuad.

“Sejujurnya saya tidak masuk dalam gambaran untuk menjadi bagian dari pemusatan latihan itu,” katanya. Menurutnya, hal terpenting saat ini adalah menyiapkan diri untuk November dan berusaha berada dalam kondisi fit ketika Wales menghadapi Portugal dan Norwegia. Cedera ini menjadi pengingat bahwa bagi pemain muda, menjaga kondisi fisik sama pentingnya dengan menjaga performa.

Target November dan Duel Melawan Ronaldo serta Haaland

Lawlor mengakui ia merasa “sangat kecewa” karena melewatkan kesempatan menghadapi dua bintang besar dunia: Cristiano Ronaldo dari Portugal dan Erling Haaland dari Norwegia. Dua nama itu jelas menjadi magnet tersendiri bagi pemain muda mana pun yang ingin mengukur kemampuan diri di level tertinggi.

Ia berharap bisa tampil pada November nanti dan membuktikan kemampuannya saat berhadapan dengan pemain sekaliber mereka. Bagi Lawlor, laga melawan Portugal dan Norwegia bukan hanya soal hasil tim, tetapi juga panggung untuk menunjukkan bahwa kepercayaan yang diberikan Barry-Murphy dan Bellamy tidak salah alamat.

Jika kondisi fisiknya terjaga, kesempatan itu terbuka lebar. Konsistensi bersama Cardiff di Championship akan menjadi modal penting sebelum ia kembali memperkuat Wales, terutama karena gaya permainan yang dituntut kedua pelatihnya relatif sama.

Kesimpulan

Dylan Lawlor menempatkan kesamaan pendekatan Brian Barry-Murphy dan Craig Bellamy sebagai salah satu faktor yang mempermudah perkembangan kariernya. Dua pelatih itu dinilainya sama-sama detail, berorientasi pada kekuatan sendiri, dan punya cara pandang yang sejalan dengan gaya bermainnya. Fondasi yang dibangun bersama Cardiff dan Wales pun membuat ia tidak perlu memulai dari nol setiap kali berpindah tim.

Yang tersisa sekarang adalah menjaga kebugaran setelah cedera lutut yang mengganggu awal musimnya. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, November bisa menjadi momen penting bagi Lawlor untuk kembali membuktikan diri, termasuk menghadapi dua nama besar yang sempat ia lewatkan. Perjalanan pemain 20 tahun ini masih panjang, dan kesinambungan di dua level tim nasional serta klub menjadi modal berharga untuk langkah berikutnya.

Exit mobile version