Berita Bola

Amorim AC Milan: Kritik di Man Utd Tak Terlampaui

Ruben Amorim menilai kritik sekeras apa pun yang ia terima sebagai pelatih AC Milan tidak akan pernah melampaui tekanan yang ia rasakan semasa menangani Manchester United. Pelatih asal Portugal itu menyebut pengalaman di Old Trafford membuatnya jauh lebih tahan banting terhadap sorotan negatif, bahkan saat hasil timnya dipertanyakan.

Pernyataan tersebut muncul menjelang laga tandang Milan ke markas Lazio pada Serie A akhir pekan ini. Milan sendiri baru mengumpulkan tujuh poin dari tiga pertandingan, dan kritik mulai mengarah ke Amorim setelah timnya gagal mempertahankan keunggulan melawan Juventus. Laga di Roma itu pun menjadi ujian berikutnya bagi perjalanan awal Amorim AC Milan di kompetisi domestik Italia.

Kritik di Man Utd Jadi Bekal Amorim di AC Milan

Amorim menegaskan bahwa tekanan publik bukan hal baru baginya. Ia mengaku sudah melewati masa-masa paling berat ketika masih menangani klub raksasa Inggris, sehingga kritik yang datang di Italia terasa jauh lebih ringan. Menurutnya, tidak ada lagi tingkat tekanan yang bisa melebihi apa yang pernah ia alami sebelumnya.

“Kritik itu normal. Saya sudah mengalaminya di klub saya sebelumnya. Kritik yang lebih banyak dari itu mustahil,” ujar Amorim kepada wartawan saat mempersiapkan lawatan ke markas Lazio, seperti dikutip dari pernyataannya.

Ia juga menekankan komitmennya terhadap gaya bermain menyerang. Amorim berjanji tim selalu menjadi prioritas utama, dan niatnya bersama staf adalah membangun permainan positif sekaligus mencetak gol. Menurutnya, apa yang ia lakukan di Milan bukan sesuatu yang acak, melainkan bagian dari rancangan yang jelas.

Gagal Menang Lawan Juventus dan Kritik atas Taktik

Milan memulai musim Serie A dengan kemenangan atas Torino dan Venezia sebelum ditahan imbang 1-1 oleh Juventus. Kemenangan ketiga berturut-turut tampak sudah di depan mata, tetapi Federico Gatti mencetak gol penyama kedudukan di masa tambahan waktu. Hasil itu membuat sejumlah pengamat dan sebagian pendukung mempertanyakan pendekatan taktik Amorim.

Amorim merespons dengan menjelaskan bahwa pertandingan tidak selalu berjalan sesuai rencana pelatih. Ia menyebut bisa saja lawan tampil sangat baik sehingga mampu mendesak Milan ke belakang, dan dalam laga melawan Juventus ia menyinggung peran Luciano Spalletti yang ia nilai mampu menyiapkan timnya dengan bagus. Meski begitu, ia menegaskan bahwa penguasaan bola Milan lebih banyak dibanding Juventus, dan hal itu menunjukkan bahwa timnya tetap berusaha mengambil inisiatif.

Bagi Amorim, perbedaan hasil tidak mengubah niat dasar timnya. Ia menegaskan bahwa siapa pun lawannya, Milan selalu bermain dengan tujuan yang jelas. Karena itu, kritik yang muncul lebih banyak berkaitan dengan hasil akhir ketimbang hilangnya identitas permainan.

Lazio di Bawah Gattuso Sebagai Cermin Semangat

Lazio yang akan dihadapi Milan datang dengan modal sembilan poin sempurna di bawah asuhan mantan gelandang Rossoneri, Gennaro Gattuso. Ini menjadi kali ketiga dalam sejarah Lazio memulai musim Serie A dengan tiga kemenangan beruntun, setelah sebelumnya hanya terjadi pada 1974-75 dan satu musim lagi di era 2010-an.

Amorim menilai kemampuan Gattuso membuat Lazio tampil lebih baik daripada jumlah kualitas individu pemainnya. Menurutnya, sosok Gattuso sebagai legenda Milan sekaligus contoh nyata bahwa bakat bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Ia menyebut semangat dan agresivitas yang Gattuso tunjukkan semasa bermain adalah hal yang perlu ditiru Milan saat ini.

Amorim bahkan menilai bahwa yang paling sering hilang dari Milan dalam beberapa tahun terakhir bukanlah bakat, melainkan hasrat bermain seperti itu. Ia melihat perjalanan Gattuso bersama Lazio sebagai teladan yang sangat relevan untuk situasi timnya sekarang.

Pemain Kunci dan Statistik Lazio vs Milan

Dari kubu Lazio, nama Davide Frattesi layak diperhatikan. Pemain pinjaman dari Inter itu mencetak tiga gol dalam tiga penampilan Serie A pertamanya bersama Lazio. Sebelumnya, hanya Mauro Zarate, Giuseppe Signori, dan Silvio Piola yang mampu mencetak gol di tiga laga pertama mereka untuk klub tersebut, dan tak satu pun dari mereka mencetak gol di pertandingan keempat.

Di sisi Milan, Alphadjo Cisse menjadi sorotan setelah mencetak gol ke gawang Torino dan Juventus. Jika ia kembali mencetak gol, ia bisa menjadi pemain ketiga yang membukukan gol di masing-masing tiga penampilan tandang pertamanya di Serie A untuk Milan pada era tiga poin untuk kemenangan, atau sejak musim 1994-95. Maurizio Ganz pada Januari-Februari 1998 dan Krzysztof Piatek pada Februari-Maret 2019 adalah dua nama sebelumnya yang mencapai catatan itu.

Sejarah pertemuan kedua tim pun menarik untuk disimak. Lazio kalah 73 kali dari 166 pertemuan melawan Milan di Serie A, dengan 33 kemenangan dan 60 hasil imbang. Satu-satunya lawan yang lebih sering mengalahkan Lazio di kompetisi ini adalah Juventus dengan 87 kekalahan. Namun, tuan rumah pada laga nanti memenangi dua dari tiga pertemuan terakhir melawan Milan, jumlah kemenangan yang setara dengan raihan mereka di sepuluh pertemuan sebelumnya.

Peluang Amorim Menembus Rekor dan Prediksi Laga

Amorim berpeluang menjadi pelatih Milan pertama yang menang tiga kali dari empat laga Serie A pertamanya sejak Fatih Terim pada 2001. Secara keseluruhan, ia bisa menjadi pelatih ke-12 dalam sejarah klub yang meraih minimal tiga kemenangan dalam empat pertandingan liga pertamanya.

Meski catatan sejarah pertemuan cenderung berpihak kepada Milan, perhitungan superkomputer Opta tetap memberikan keunggulan kepada pasukan Amorim. Peluang kemenangan Lazio berada di angka 29,3 persen, kemenangan AC Milan 42,3 persen, dan hasil imbang 28,4 persen. Prediksi laga pun mengarah pada kemenangan AC Milan.

Dengan kata lain, laga ini bukan hanya soal menjaga posisi di papan klasemen, tetapi juga soal membuktikan bahwa pendekatan Amorim mampu menghasilkan konsistensi. Tekanan yang datang setelah hasil imbang melawan Juventus menjadi ujian pertama bagi ketahanan mentalnya di Italia.

Kesimpulan

Amorim datang ke Milan dengan bekal pengalaman pahit sekaligus berharga dari Manchester United, dan ia memilih merespons kritik dengan menegaskan niat bermain menyerang. Sementara Milan masih mencari kestabilan setelah tujuh poin dari tiga laga, Lazio justru melaju sempurna di bawah Gattuso. Laga di Roma nanti akan menunjukkan apakah pernyataan Amorim soal ketahanan terhadap tekanan berjalan seiring dengan hasil di lapangan.

Jika Milan mampu menang, Amorim tidak hanya meredam kritik, tetapi juga menorehkan catatan yang belum dicapai pelatih Milan sejak lebih dari dua dekade silam. Sebaliknya, hasil buruk berpotensi memperbesar sorotan terhadap taktiknya, terlepas dari seberapa besar tekanan yang ia klaim sudah pernah ia lewati.

Exit mobile version